Selasa, 08 Mei 2012

TARGET BACA ALKITAB


Yohanes 20:30-31


         Nas kita memberitahu “maksud penulisan Injil Yohanes”.  Dari satu sisi, ada target tertentu dalam penulisan Injil ini.  Dari sisi lain, ada target khusus pula yang harus kita raih dari pembacaan Injil ini.

  Alkitab adalah kata hati Allah yang esa dalam wujud karya tulis (2Tim 3:16); diilhamkan atau dinubuatkan Roh Allah yang sama (2Ptr 1:20-21); menyaksikan pribadi, hati & karya Allah melalui pribadi, hati & karya tokoh utama, Yesus Kristus (bdk. Mat 5:17; Luk 24:27, 44-47; Yoh 5:39; Kis 10:43; Rm 1:1-4); meski dituliskan sejumlah anak manusia dengan latar belakang sifat, keluarga & jaman yang khas & khusus.  Dari sifat esa Alkitab, bisa dikatakan bahwa nas kita juga mengandung target umum dalam pembacaan seluruh Alkitab.  Seiring program “Tiada Hari Tanpa Alkitab” maka berikut ini adalah beberapa target tersebut.

 1)      Kita memiliki hikmat/wahyu dasar iman tentang Kristus

         Penulis Injil Yohanes menyatakan, “semua yang tercantum di sini telah dicatat”.  Kata “telah dicatat” di sini dari kata Yunani γεγραπται, dengan akar kata γραφω. Kata ini mengandung arti sebagai “sesuatu yang dituliskan sebagai suatu catatan informasi atau pengetahuan”.

Isi Injil Yohanes khususnya, dan isi Alkitab umumnya, adalah “informasi, kesaksian, atau hikmat yang dicatat secara sadar, teliti, dan pasti” oleh para penulisnya menjadi “buku, kitab, atau karya tulis yang bisa dibaca & dibacakan”.  Karya itu disampaikan agar pembacanya “dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Luk. 1:1-4; kata “dapat mengetahui” dalam Luk 1:4 berasal dari kata έπιγνως, dengan akarnya έπιγινωσκω; mengandung juga arti “mengenal” – Luk 24:31, “mengenal dengan sempurna” – 1Kor 13:12, “menyadari” – 1Kor 14:37, “menghargai” – 1Kor 16:18, “memahami’ – 2Kor 1:13, “memastikan” – Kis 24:11); melalui karya tulis itu para pembaca diharapkan memperoleh segala hikmat/wahyu yang mendasari “iman” mereka.  Maka Target Baca Alkitab ‘pertama” yang seharusnya kita gapai itu adalah “melalui Program Baca Alkitab ini kita memiliki hikmat/wahyu dasar iman  mengenai Kristus Yesus”.

(2) Kita memiliki rasa percaya terhadap Kristus Yesus

Melalui tulisannya Penulis Injil mau “supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah”.  Kata “kamu percaya” berasal dari kata πιστευ[ς]ητε, dengan akarnya πιστευω. Kata ini bisa berarti “percaya [akan]” (Yoh. 2:22; Yak 2:19), juga berarti “percaya [dalam]” (Yoh 2:23), “percaya [pada]” (Yoh 3:15), “mempercayakan [diri pada]” (Yoh 2:24), “menanggungkan [pada]” (1Kor 9:17).

Injil Yohanes dan Alkitab disampaikan agar para pembacanya “percaya, mempercayai & mempercayakan diri pada Kristus”.  Maka target baca Alkitab adalah juga “kita memiliki rasa percaya purna pada Kristus” sebagaimana Tomas (Yoh 20:28).  Dan Ia layak dipercayai oleh karena “Yesuslah Mesias, Anak Allah” yang tunggal itu.

3)      Kita memiliki kesatuan rohani pribadi dengan Kristus Yesus

         Penulis Injil Yohanes juga rindu “supaya kamu oleh imanmu [itu] memperoleh hidup dalam nama-Nya”.  Kata “hidup” ini berasal dari kata ξωην, dengan akar ζωηDalam Injil Yohanes ini kata ini mengandung arti “hidup kekal yang ada dalam persekutuan, persatuan, atau pergaulan pribadi dengan Allah dan Kristus Yesus” (bdk. Yoh. 17:3).

Injil Yohanes dan seluruh Alkitab adalah tulisan yang disampaikan agar pembaca “memperoleh hidup dalam nama-Nya“, yaitu “memiliki hidup kekal karena relasi pribadi dengan Allah dan Kristus”.  Dengan ini, target baca Alkitab kita ialah terwujudnya kesatuan, kepaduan, serta keakraban hidup pribadi kita dengan pribadi Allah dan Kristus.

Membaca habis Alkitab ratusan kali itu baik & memang selayaknya.  Namun dengan tiga target rohani tersebut tentu pembacaan kita menjadi sehat dan menghidupkan.  Mari kita giat, tekun & setia baca Alkitab agar dewasa, sehat, dan sempurna dalam iman kita selaku murid Kristus.

Halleluyah—Maranatha—Amin!
Pdt. Martin LT



Jumat, 27 April 2012

“BERJAGA-JAGA DAN BERDOA”


Pdt. Timotius Lienardy

Mat 26:41 “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Dalam PB khususnya konteks  “Doa Yesus di Taman Getsemani”  kata  “berjaga-jaga”  lebih berkaitan pergumulan terhadap permasalah-permasalah kehidupan sehari-hari. Dalam I Kor. 16:13 kata “berjaga-jaga” dipakai dalam kaitan hati-hati dan waspada terhadap permasalahan yang dapat melemahkan kehidupan iman (sakit, dagang kurang sukses, anak tidak naik kelas, masalah-masalah rumah tangga dll). Maka dapat kita simpulkan  “berjaga-jaga”  memiliki makna kesiapsiagaan kehidupan iman dalam menghadapi realita hidup sehari-hari dan realita hidup iman wajib dijaga sebaik-baiknya untuk kesaksian hidup itu sendiri dan untuk hormat kemuliaan Tuhan.

Kehidupan iman menghadapi 3 macam tantangan yang tidak ringan:
Pertama: Dosa.
Kej 4:7b “dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.“   Kata   “mengintip”  mengandung arti seperti seekor kucing yang melipat ke 4 kalinya dalam kondisi duduk di tanah atau ke 4 kaki yang berlipat dan bagian bawah perut menyentuh tanah, jadi dalam kondisi istirahat. Kondisi seperti inilah adalah saat yang tepat menunggu mangsa, sambil relak, muncul langsung diterkam. Jadi kata  “mengintip”  berarti dosa menunggu di depan pintu hati kita, pintu hidup kita.
Dosa tidak jauh dari hati atau kehidupan kita. Dosa berada sangat dekat di kehidupan setiap manusia. Jadi tanpa pengawalan atau penjagaan yang kuat, dosa sangat mudah masuk. Akibatnya hidup kita penuh maksud jahat atau perbuatan yang tidak terpuji.

Kedua: Iblis.
Luk 4:13 “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik”.
Dalam Injil dituliskan bahwa memang Iblis selalu mencari kesempatan yang baik untuk mencobai Yesus. Contoh: dalam kasus Petrus, Yesus berkata “enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagi-Ku”. Mat 16:21-23; dalam kasus Yudas, Luk 22:3 dan Yoh 13:27 Nah, saudara dari kenyataan seperti yang dialami Yesus, kita perlu berjaga dan berdoa. Iman kita harus tetap siap siaga, tidak boleh lemah, kendor. Begitu lemah, kendor saat itu Iblis memakai pelbagai kesempatan untuk menghancurkan kita, melalui pelbagai kesempatan, kita harus hati-hati dan waspada.

Ketiga: Daging.
Mat 26:41 “…daging lemah”. Istilah “daging” - sarx memiliki arti tetapi yang dipakai Yesus lebih menunjuk kepada tubuh manusia secara jasmani (keberadaan manusia dalam hakekat fisiknya/jasmani). Kaitan kata  “daging” nampak dalam pergumulan doa Yesus yang membawa 3 murid-Nya: Petrus, Yakobus dan Yohanes ikut berdoa. Kenyataannya, mereka tertidur karena secara fisik mereka capek. Dalam kondisi sedemikian Yesus menasehatkan mereka agar bagaimanapun juga situasinya mereka harus berjaga-jaga dan berdoa, kalau tidak mereka akan masuk dalam jerat pencobaan.
Sebagai orang percaya, beraktifitas, sibuk bekerja, melayani harus tetap waspada. Keletihan, kesusahan, kesulitan sekalipun tidak boleh  “menidurkan”  iman rohani kita.
Kondisi apapun kita harus berdoa dan berjaga-jaga supaya jangan jatuh dalam pencobaan.


     

Rabu, 18 April 2012

SEBAB DIA HIDUP, HIDUPLAH DALAM TUHAN (YOH 14:15-20)



Pdt. DR. Yusak B. Setyawan (S.Th,S.Si,MATS,Ph.D)
GKMI Kenari, Kudus, 22 April 2012

“…Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup…” (Yohanes 14: 18-19).

Dari masa yang sangat awal, kebangkitan Tuhan tidak dilambangkan dengan telur yang berisi, melainkan dengan kubur yang kosong. Hal yang paling dasariah adalah bahwa kebangkitan adalah kehidupan. Yesus yang bangkit adalah Yesus yang hidup. Dalam ayat 19, Yesus sendiri berkata: “…sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.” Dari Bahasa aslinya, kalimat ini berbunyi, “sebab Aku terus menerus hidup, maka kamupun akan hidup.” Dalam Injil Yohanes, hidup berarti ada dalam kebersamaan secara terus menerus dengan Allah Bapa. Hidup berarti terus menerus ada dalam hadirat Tuhan. Oleh sebab itu, Yesus terus menerus hidup karena “Aku di dalam Bapaku” (ayat 20). Ini yang disebut hidup sejati, yakni hidup dalam arti yang paling dalam.

Karena Tuhan Allah adalah sumber hidup, maka di dalam Tuhan maut tidak berkuasa. Jadi ketika Yesus berada bersama dengan Allah Bapa, sekalipun Yesus menderita, disalibkan, bahkan mati dan dikuburkan, Yesus tetap hidup, yakni hidup dalam lingkup kehadiran Tuhan, karena kematian tak dapat memisahkan persekutuan dalam Tuhan. Yesus mati dengan terpisahnya roh dari tubuh, tetapi Yesus tetap hidup, karena walauapun ia mati di atas kayu salib, ia mati dalam lingkup kehadiran Tuhan. Kebersatuannya Yesus dengan Allah Bapa menjadikan Yesus sampai pada tingkat hidup sejati, hidup abadi, hidup kekal.

Yesus yang hidup berimplikasi pada kehidupan murid-muridnya. Murid-muridNyapun akan mengalami kehidupan. Sepanjang murid-murid ada terus bersama Yesus, dengan melakukan perintah Yesus, mereka akan tetap hidup juga. Sepanjang murid-muridNya setia dalam mengikut Tuhan, maka kehidupan akan diberikan oleh Tuhan. Menyatunya murid-murid dengan Yesus digambarkan dengan menempelnya cabang-cabang pada pokok anggur yang nantinya menghasilkan buah-buah kehidupan. Di lain pihak, Yesus tidak akan pernah meninggalkan murid-muridNya.

Tanda yang paling penting bahwa Yesus tak pernah meninggalkan mereka adalah Yesus meminta Bapa untuk mengirimkan Roh penghibur. Roh penghibur, atau Roh pembela itu akan ada bersama-sama murid-murid Yesus. Teks mengatakan bahwa Roh penghibur itu akan ada di di antara kamu, sebagai suatu persekutuan. Jadi kehadiran Roh penghibur yang menguatkan akan nampak dalam wujud yang paling jelas ketika orang-orang Kristen ada dalam persekutuan yang kokoh, persekutuan yang solid dan yang tidak terpecah-pecah.

Ajaran Kitab Suci menegaskan bahwa panggilan untuk hidup dalam Tuhan adalah agar kita dapat hidup menghadapi berbagai persoalan hidup. Hidup adalah pilihan, maka pilihlah untuk hidup, hiduplah dalam Tuhan, karena Tuhanlah sumber kehidupan kekal. Gereja yang hidup adalah gereja yang memilih hidup, hidup di dalam Tuhan. Amin.

Minggu, 15 April 2012

SEMUANYA HARUS DIAWALI DENGAN ALLAH





1. KESADARAN AKAN ALLAH SEBAGAI SANG PENCIPTA DAN SANG SUMBER KEHIDUPAN
Semuanya harus dimulai dari Allah dan untuk Allah. Firman Tuhan menegaskan: “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” (Kolose 1:16). Allah tidak berkenan kepada segala sesuatu yang dimulai dari kekuatan diri sendiri. Di luar Allah kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:6), dan Firman Tuhan mengatakan “terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatan dirinya sendiri” (Yeremia 17:5-6). Jadi hidup harus dipersembahkan dan dikembalikan kepada Sang Pencipta. Di luar Allah, kita tidak menemukan tujuan dan makna hidup kita yang sebenarnya. Segala sesuatu yang berasal dari dunia ini dan manusia hanya bersifat fana dan segera musnah.
2. TERUS-MENERUS TINGGAL DI DALAM ALIRAN KEHIDUPAN ALLAH
Allah bukan hanya Sang Pencipta tetapi juga Sang Sumber Kehidupan. Hanya di dalam Allah saja terdapat kehidupan. Jika kita menginginkan kehidupan dan pertumbuhan kita harus terus-menerus tinggal dan hidup dalam pimpinan Tuhan (Yohanes 15:1-8) melalui cara hidup yang percaya dan taat (Amsal 3:5-6), persembahan diri (Roma 12:1), dan tidak lagi hidup dalam cara hidup yang duniawi (1 Yohanes 2:15-17). Allah menginginkan agar kita ‘mati’ terlebih dahulu dengan ke-“aku”-an kita (Yohanes 12:24), sehingga kita baru dapat dituntun ke dalam aliran hayat/kehidupan Allah yang melimpah dan berbuah.
3. MENGHIDUPKAN CAHAYA DAN ENERGI ALLAH DI DALAM DIRI KITA
Jika kita tinggal dan hidup di dalam Allah kita akan mengalami pertumbuhan, kehidupan, berkat dan kelimpahan yang berbuah-buah. Firman Tuhan berkata: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!  Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:5-8). Maka jika kita sungguh-sungguh tinggal dan hidup di dalam aliran kehidupan Allah kita akan dapat senantiasa bertumbuh dalam kasih, sukacita, dan kedamaian. Bahkan kehidupan akan menjadi lebih kreatif, inspiratif dan produktif.
4. PANDANGLAH SELALU DENGAN VISI YANG BARU
Di dalam kehidupan Allah kita dapat menemukan visi/penglihatan yang baru atas segala tantangan dalam semua bidang kehidupan kita. Nabi Yesaya mengajarkan dan mengundang kita untuk melihat perbuatan Tuhan: “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.” (Yesaya 43:19)
5. PEMELIHARAAN ALLAH YANG SEMPURNA BAGI ANDA
Di dalam Allah ada pemeliharaan (providentia) yang maha sempurna bagi Anda. (Yesaya 43:1-2). Sebagai orang yang percaya di dalam Kristus, kita tidak perlu menjadi kuatir dan takut akan semua berita yang mengejutkan karena rancangan Allah itu baik bagi kita dan hidup kita tertulis dalam telapak tangan TUHAN (Yesaya 49:16). Tuhan Menyertai dan Memberkati Saudara. AMIN.


Oleh: Pdm. Andrias Wijaya

Perdamaian, Buah Latihan Rohani. Ibrani 12:1-14.



Tepat pada hari ini diadakan Hari Doa Untuk Anak-anak Sedunia. Sekjen Religions For Peace International  minta agar kita melibatkan diri dalam gerakan “Hentikan kekerasan Terhadap Anak-anak!”
Sesungguhnya ada latihan yang lebih awal dan mendasar! Sebagai suami-isteri, kita harus berlatih untuk mengupayakan hidup berkeluarga secara damai! Apabila kita sendiri bersedia belajar secara berdisiplin – dimulai dari yang sederhana untuk selanjutnya kita tingkatkan - sehingga hidup kita diwarnai oleh suasana dapat saling menerima, menghargai dan menghormati, maka anak-anak kita akan lebih mudah belajar dari kita sendiri!
Ketika kehidupan bermasyarakat kita menjadi semakin carut-marut,  tidak sedikit orang yang mencari-cari bagaimana kita dapat hidup berdampingan dalam berbagai macam kemaje-mukan tetapi kedamaian itu dapat dialami, pasti banyak orang akan senang menirunya.
Hidup memang susah, sudah dari awal. Ketika Kain dan Habel sedang mempersembahkan korban syukur pun sudah membuahkan iri hati, cemburu dan berakhir dengan pembunuhan di antara saudara kandung sendiri! Kini wajah agama malah semakin kehilangan pamor! Hidup bergereja pun seringkali diwarnai oleh berbagai macam intrik, kecurigaan dan perpe-cahan.
Kita harus hidup sedemikian rupa, yang berbeda dari banyak orang yang berada di sekeliling kita. Dunia sedang mencari apakah kita hidup siap “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita semua”. Untuk itu kita dituntut agar kita melakukannya dengan tekun, setia, mengabaikan kehinaan. Cara yang terbaik adalah senantiasa melihat Yesus sebagai Guru dan Teladan kita. (cf.5:7,8).
Kata kunci yakni mendisiplin diri kita sendiri. Jelas tidak mudah dan ada harga yang harus kita bayar! Karenanya kita tidak boleh berjuang sendiri-sendiri. Kita diminta untuk saling menolong (ayat 12,13). Kita diminta untuk terus berlatih mengupayakan hidup damai dengan semua orang. Istilah yang dipakai: mengejar kekudusan. Alkitab mengajar hidup yang kudus itu bukan hidup yang begitu sempurna sehingga tidak ada lagi dosa atau kegagalan tetapi menyadari bahwa Tuhan menghendaki kita agar kita hidup sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya. Sayangnya, masih banyak dari kita yang ditinjau dari segi waktu, kita masih seperti anak-anak, yang maunya hidup dengan enak, menu kita pun hanya yang lunak dan manis atau gurih. (CC).
Doa: Ya Bapa, ampuni saya karena saya begitu malas untuk berdisiplin diri sehingga saya lebih mudah hanyut mengikuti arus dan tidak mau melawannya. Jadikan saya alat perdamaian-Mu. Amin.

Nama Allah ( Yes. 9: 5-6)





Dapatkah anda bayangkan dua orang yang sungguh-sungguh  saling mengenal dan mengasihi satu sama lain tanpa mengetahui namanya masing-masing?. Entah bagaimana , nama kita sangat berkaitan erat dengan kepribadian kita, sehingga hanya mereka yang mengetahui nama kita benar-benar  dapat mengasihi dan memahami diri kita.
Hal ini berlaku juga dalam hubungan kita dengan Allah. Sayang banyak orang Kristen yang tidak mau mengambil waktu untuk memahami dan mengasihi Allah dengan cara  lebih mengenal berbagai  Nama Allah yang dinyatakan dalam Alkitab. Dalam renungan ini dan ayat Firman Tuhan ini kita mau berjuang memulai  pengenalan kita terhadap Nama2-Nama  Allah kita, supaya karenanya kita makin belajar mengakuinya dan mengasihiNya.
Asebelum masuk ke ayat itu, saya mau menyederhanakan pemahaman kita terhadap Nama Nama  Tuhan sebagai berikut. Ada  relasi  jejaka yang saling jatuh cinta  Kartono dan Kartini. Ketika mereka berpacaran mereka tidak lagi menyebut nama tetapi kekasih. Setelah nikah berubah menjadi suami dan istri, setelah punya anak mereka disapa Bapak dan ibu apalagi kalau sudah punya cucu mereka berubah engkong dan emak dst.Belum lagi kalau dikaitkan dengan tugas yang disandangnya. Guru, Pendeta, Kepala Desa,Ketua Majelis. , Sekretaris, Bendahara, Komisi Wanita, Direktur, dst.
 Lebih dari itu  tantang Nama Allah yang mempunya dimensi tanpa batas. Pasti Dia mengkondisikan untuk mempunya begitu banyak Nama sehubungan dengan sifat dan hakekat yang sedang dihadapi.
Memang ada 3 Nama utama yang digambarkan dalam Perjanjian Lama(  yaitu: Elohim(Alah), YHWH/Yahweh(TUHAN), Adonai (Tuhan/Tuan( ) dan masih ada 80 Nama gabungan yang lain.
Sehubungan dengan persiapan Natal  kita belajar Nama2Nya sebagaimana tertulis dalam Yesys 9: 5 – 6) : Penasehat Ajaib , Allah Perkasa, Bapa yang kekal dan Raja Damai. Padahal yang dimaksud disitu adalah hadirnya seorang anak keturunan Daud yang bernama Tuhan Yesus Kristus. Sebelum nama aslinya terungkap makna kehadiranNya sudah dinyatakan begitu luas, penuh kasih dan meberi kepastian pengharpan. Di dalam namanya semua yang paling dibutuhkan manusia, apa yang paling membahagiakan manusia, dan kepada siapa manuisa harus menempatkan diri.
Tuhan memberkati. Amin


GKMI Kenari , Minggu: 27 /11/2011

“Gereja menghadirkan Damai Sejahtera” (Amos 5 : 21-27)




Ada pepatah Belanda yang menarik :”Jika gereja terbuat dari kayu, hati orang Kristen-nya terbuat dari emas, tetapi..... jika gereja terbuat dari emas, hati orang Kristen-nya terbuat dari kayu”! Wow!!!! Pepatah ini ingin mengingatkan agar umat beriman senantiasa menjaga kualitas hatinya, dengan cara menyadari daya cobaan yang  bisa jadi dihadirkan oleh dan melalui kemajuan lahiriah gereja secara fisik. Tentu kita perlu terus membenahi gereja kita, namun pembenahan dimensi fisik dan organisatoris gereja (bangunan, tata gereja, aturan, kesepakatan, program-program, sarana-prasarana) tidak boleh meninabobokkan kualitas hati orang!

Amos yang hidup di abad 8 BCE adalah seorang nabi dengan latar belakang awam (ia pemetik buah ara hutan, domisili aslinya di Selatan, namun TUHAN memanggilnya bernubuat di wilayah Utara). Kritiknya amat tajam. Terutama menyangkut kehidupan ibadah dan sosial dari umat. Ia memperingatkan umat untuk bertobat agar tidak dihukum. Namun agaknya umat memang bebal, tahunn 722 BCE Asyur akhirnya membumihanguskan Israel Utara (Nubuatan Amos tergenapi : 5 : 14-17).

Sebetulnya kehancuran ini bisa dihindari jika umat mau mendengarkan kritikan pedas nabi. Yang ia kritik adalah : Dikotomi ritus agama dan kesaksian hidup. Ibadah Israel memang rapi, teratur dan padat. Indah, sistematis dan rutin......namun kata nabi TUHAN ”membenci, TUHAN menghina perayaan ibadah....TUHAN tak senang dengan perkumpulan raya mereka....segala macam jenis korban : minhah, olah, syelamim, tefunah dll.......TUHAN tidak suka! Juga lagu-lagu pujian tidak mau TUHAN dengarkan.
Ingat permasalahan bukan pada TUHAN anti pujian, anti persembahan. Bukan!!! Namun jika ritual dilakukan terpisah dari kesaksian hidup di luar ibadah, maka ritual itu tak berguna! Ritus di tempat ibadah dan kehidupan di dunia mesti menjadi satu bagian yang integral. Amos menunjukkan kehendak TUHAN : ”Biarlah keadilan (misypat) bergulung-gulung seperti air dan kebenaran (tsedaqa) seperti sungai yang selalu mengalir”
Dengan kata lain : Biarlah keadilan dan kebenaran itu selalu ada dan berlimpah dalam hidupmu!!!! Itu yang dikehendaki TUHAN. Ritus oke, namun jangan membuat keokean ritus menjadi alasan pembenar ketiadaan kebenaran dan keadilan.
Terbalik! Ritus yang benar ada di tengah-tengah kehidupan kita ini. : Ibadah adalah Abodah! Ibadah (rohani) adalah (Kerja). Di semua sisi kehidupan kita melayani TUHAN dan sesama. Jangan dikotak-kotakkan. Jangan berteologi Ampibi!!!! Damai sejahtera (syalom) adalah realitas yang dibangun di atas dua kaki : Kebenaran dan Keadilan (Yesaya 32 : 16-17). Gereja baru bisa sungguh membawa shalom jika kita membawa keadilan dan kebenaran itu di dalam ritus kehidupan kita setiap hari, di rumah, di pekerjaan, di masyarakat, di dunia ini.

DKL