Minggu, 27 Januari 2013

FIRMAN ITU PEMBAWA DAMAI BAGI CIPTAANNYA



Yes 9: 5, Yoh14:27

Yesus, sang Firman itu datang ke dunia bukan untuk melihat-lihat atau mengawasi mahluk ciptaaanNya. Sang Firman datang untuk membawa dan memberikan damai bagi semua yang diciptakanNya.
Mengapa I memberikan damai? Karena ciptaanNya membutuhkan damai. Manusia sekuat dan sekaya apapun tetap membutuhkan damai, karena tanpa damai manusia tidak dapat menikmati  kebahagiaan dan kebaikan yang Tuhan sediakan.
Damai : keharmonisan, keselarasan, keamanan dan keselamatan (harmony, security, safety). Damai adalah kebutuhan semua mahkluk ciptaan Tuhan. Sejak semula Tuhan Allah kita telah menyediakan damai itu bagi ciptaanNya. Karena itu Firman Tuhan mengatakan : semuanya sungguh amat baik.
Tapi sayang sekali , manusia merusak damai/harmoni yang Tuhan sediakan, dengan cara menolak kepemimpinan Tuhan Allah dalam hidup mereka. Pada saat manusia memutuskan hubungan dengan Allah, pada saat itulah manusia kehilangan damai, kehilangan keamanan, kehilangan keselamatan dan kehilangan keharmonisan dengan Allah, sesama dan semua ciptaan Allah.
Yesus, sang Firman itu, datang membawa damai supaya kita dan semua ciptaanNya dpt kembali memiliki damai di sini dan damai di sorga.


Amin.

Pdt Yeanny M. Soeryo

“ Firman Tuhan itu berkat bagi semua orang “


Rounded Rectangle: GKMI Kenari
30 Desember 2012
 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
2 Tim 3 :16-17
Pendahuluan
Menjadi orang yang diberkati adalah kerinduan setiap orang.  Sebagai orang tua cita – cita kita adalah melihat keturunan kita menjadi sukses, bahkan bukan hanya sukses secara duniawi tetapi juga secara rohani.  Siang malam kita rela berjerih lelah agar mampu mewujudkan mimpi itu di dalam rumah tangga kita.  Demikian juga dengan para orang muda, diberkati adalah mimpi setiap mereka.  Menjadi dewasa, berkarya, berjumpa dengan pasangan yang tepat ( bobot, bibit dan bebet ), berumah tangga  dan mewujudkan berkat yang melimpah atas kehidupan mereka bahkan kalau perlun melampaui generasi para pendahulu mereka. 
Ada pemahaman yang kurang lengkap.
Meski demikian ada hal yang biasanya tak terperhatikan dalam perwujudannya.  Mengapa demikian karena fokus hidup yang diberkati tersebut lebih mementingkan pada rumusan pengembangan material dan intelektual tanpa dibarengi dengan pertumbuhan yang cukup di dalam dimensi spiritual.  Manusia lupa bahwa dimensi kehidupan yang Tuhan berikan justru diawali hal spiritual ( Kej. 1 : 26 - 28 ) baru kemudian  mengarah kepada pengembangan materi dan intelektual.  Konsekuensi logis peletakan fondasi yang salah ternyata mempengaruhi tata kelola hidup yang Illahi menjadi materialistik, sikut – sikutan dan berpusat kepada pemujaan kesenangan pribadi.
Dengan demikian maka dalam struktur intelektual dan material manusia sebetulnya dipengaruhi oleh bangunan spiritual yang telah Allah ciptakan sedemikian rupa untuk mewujudkan tata kelola bumi yang Illahi.  Hal ini tentu kita mengerti bahwa hal tersebut terjadi ketika manusia lebih mengandalkan pada hidup yang berpusat pada “diri”  dan “materi”  tanpa memperhatikan unsur Illahi yang telah Tuhan tetapkan sehingga akibatnya kerusakan hidup umat manusia dan alam semesta menjadi begitu parah.
Firman Tuhan sebagai cara Tuhan mengarahkan umatNya
Kesulitan diatas dimengerti dengan baik oleh Tuhan, sejak jaman Perjanjian Lama berbagai upaya telah dikerjakan Tuhan dalam memastikan kehidupan umat Israel.  Silih berganti Para Nabi Tuhan berjuang untuk memastikan umat Israel di dalam lingkarang pemeliharaan Tuhan.  Ketaatan tersebut penting, karena ketaatan kepada Firman Tuhan mendatangkan “berkat” dan ketidak-taatan menghadirkan “kutuk”.
Tetapi rasa cinta Tuhan begitu besar, sehingga proses yang tadinya tertuju hanya kepada sebuah bangsa saja menjadi berubah bagi segala bangsa. Yohanes 3 : 16 - 17 menyatakan bahwa Tuhan memberikan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, kepada dunia supaya yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal, ay. 17 menarik, bahwa proses kehadiran Yesus ternyata bukan dalam pendekatan sebagai Hakim galak dan bengis melainkan sebagai Juru Selamat, Wow !!
 Yohanes  1 : 1 menyatakan bahwa Yesus adalah “Firman Allah yang hidup”, Dia menggenapi dan melengkapkan isi Taurat dan seluruh pengajaran Para Nabi untuk mendidik, mengajar, menjadikan manusia memiliki hidup yang lengkap baik secara jasmani maupun rohani.  Kehadiran Sang Firman yang hidup itu adalah untuk memastikan bahwa pikiran manusia yang tertuju pada cerdas cakap pikir, kuat gagah raga dan daya harta menjadi terarah pada panggilan yang lebih tinggi dan mulia.  Rasul Paulus menasehati Timotius murid terkasihnya : Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik ( 2 Timotius 2 : 16 – 17).
Penutup
Sudah ribuan tahun Yesus Kristus terangkat Surga menitipkan perjuangan ini kepada kita sekalian.  Sejauhmana kita meneruskan kabar baik Tuhan, yang sudah nyata menjadi berkat bagi semua orang terpancar dari kehidupan kita.  Jika masih belum, maka kiranya di penghujung tahun 2012 bagi kita untuk merancang dampak kita lebih dalam lagi.  Tuhan Yesus Memberkati.

AHLI WARIS JANJI ALLAH


(Rom. 8 : 17; 1 Kor. 1 : 20)
GKMI Kenari Minggu 27  Januari 2013


Dalam setiap pertemuan  dalam bentuk apapun pasti kita mulai dan kita akhiri dg kata  selamat, meski dalam bahasa yg berbeda tapi artinya selamat.  Itu berarti sadar atau tidak kebutuhan manusia yg utama & pertama adalah keadaan selamat. Masalahnya selamat macam. Pada umumnya kata selamat  diberi arti tidak ada halangan yg berarti dan sesuai dg keinginan kita Sukar bagi manusia untuk menerima situasi selamat kalau hal itu tidak sesuai dg yg  diharapkan. Padahal manusia bukan penguasa waktu & tidak tahu apa yg  akan terjadi selanjutnya. Melalui tema &  ayat yg kita bahas ini kita mau belajar makna selamat menurut Tuhan.
            Jauh sebelum manusia ada Allah telah menyediakan dunia lengkap dg segala kekayaannya  supaya manusia bersama & dlm kehadiran Tuhan manusia berada dlm situasi Firdausi. Aman saling membahagiakan dan saling menjadi berkat.  Itu berarti dunia dan segalanya isinya adalah milik Allah ,manusia dipercaya  dalam kehadiran Allah untuk memelihara menaklukkan &  menikmatinya. Bukan dalam rangka memilikinya. Tetapi begitu manusia jatuh dalam dosa bumi yang taman Eden itu berubah menjadi onak duri. Kesulitan dan penderitaan yang dialami manusia. Manusia kehilangan kehadiran Allah , mengkondisikan manusia haus dan lapar akan Allah. Rasa haus dan lapar akan Allah ini mengkondisikan manusia menggantinya dg  makanan & minuman. Pikirnya dg banyak makanan dan minuman manusia akan dipuaskan selamanya.  Itulah sebabnya timbul sifat srakahisasi manusia, mengumpulkan diri sendiri sebanyak banyaknya  untuk diri sendiri & tidak peduli dg sesamanya.  Bahkan merasa akan lebih selamat kalau bisa mengumpulkan lebih banyak. Padahal fakta membuktikan tidak seorangpun  yg dipuaskan dg makanan dan minuman bahkan walaupun dunia jadi miliknya sekalipun.
Itulah sebabnya  ada natal, supaya barangsiapa percaya kepadaNya (Kristus) diberi kuasa menjadi anak2 Allah, keluarga Allah. Tuhan Yesus sebagai anak sulung dan kita yg percaya jadi keluarga  Allah. Inilah selamat yg dimaksudkan Tuhan. Yaitu ketika kita menjadi keluarga Allah.. Sebab dunia milik Allah bahkan sorga milik Allah . Untuk apa itu semua bagi Allah?. Pasti akan diserahkan  pada keluargaNya. Kalau kita keluarga Allah, sedangkan dunia & sorga milik Allah apalagi yang kita takutkan.
Namun juga bukan berarti kita berubah menjadi bosNya Tuhan. Kalau kita tidak usah berusaha sudah menjadi ahli waris itu berarti ikut menjadi pemilik, maka kita tertuntut untuk ikut memelihara , mengusahakan , menguasai begitu rupa pasti dg segala usaha dan perjuangan supaya kehadiran kita diantara alam semesta diakui & diterima sebagai kehadiran Tuhan yg memberkati mengasihi  & memuliakan Allah. Menderita bagi &  bersama Dia artinya sebahasa dg  Tuhan Yesus yg mengatakan :” Makananku adalah melakukan kehendak Tuhan: Bukan melakukan kehendak agama Kristen. Tuhan tidak mencari & membuat orang beragama. Tetapi mencari orang yg taat &  menyenangkan Tuhan sebagai Bapa kita. .Karena kita memang bukan hanya anak, tetapi juga sahabat dan bahkan mempelai wanita .  Amin

Pdt. Em. David Sriyanto

PENGHARAPAN SEJATI



MAZMUR 146
Banyak kejadian buruk menghiasi halaman koran dan layar TV kita. Bencana alam terjadi di mana-mana, kekisruhan politik melanda begitu banyak tempat, atau penyakit yang semakin aneh-aneh wujudnya. Belum lagi masalah ekonomi dan pekerjaan yang semakin sulit didapat. Bila salah satu dari hal buruk itu menghimpit kita, apa kita bisa berkata seperti pemazmur, "Pujilah Tuhan, hai jiwaku" (1)? 
Bagaimana mungkin terus memuji Tuhan?  Hidup kita tidak selamanya senang.  Tidak selamanya sukses, tidak senantiasa badan kita sehat dan seterusnya.  Pemazmur menjawab, “benar, kalau anda hanya melihat kenyataan hidup ini, kalau anda hanya mengandalkan diri sendiri dan orang lain, memang demikian.  Tidak mungkin menjadi kenyataan, kita hidup terus memuji Tuhan.”  Namun kata pemazmur kita bisa terus memuji Tuhan, gembira dan bahagia, kalau kita hanya menggantungkan harapan kita hanya kepada Tuhan.  Maka dikatakan pemazmur bahwa Tuhan yang adalah Pencipta (5-6) dan Raja (10) memperhatikan orang-orang yang beriman kepada Dia, yaitu mereka yang mencari pertolongan-Nya. Tuhan, Sang Pencipta langit dan bumi, bukan hanya peduli pada hal-hal yang besar. Ia juga peduli pada orang-orang yang tertindas, kelaparan, terbelenggu, sakit, atau yang kesepian dan sendirian (7-9). Apakah Allah bisa diharapkan? Ya, Dia setia dan berkuasa (6)! Perbuatan penyelamatan Allah yang dikatakan pemazmur pada pasal ini adalah wujud kepedulian Allah terhadap mereka yang tertindas karena ketidakadilan, yang lemah seperti anak-anak yatim, janda-janda dan orang-orang asing.  Maka pemazmur mengawali dan mengakhiri mazmurnya dengan sebuah panggilan untuk memuji Tuhan (1-2, 10b).
Bagi kita, mazmur ini memberikan sebuah perspektif dalam melihat permasalahan. Bukan memandang seperti seekor katak dalam tempurung, tetapi dari ketinggian hingga bisa memandang lebih luas, seperti mata seekor burung yang sedang terbang. Melihat bukan dari sudut pandang terbatas, tetapi dengan pemahaman bahwa Allah berdaulat dan berbelas kasihan. Hanya Allah yang patut dipuji dan disembah selama-lamanya. Tidak ada suatu kuasa pun yang dapat menandingi Allah. Bahkan kekuasaan para bangsawan dan penguasa mana pun bukan tandingan. Bagi pemazmur, setinggi apa pun kedudukan dan kuasa yang dimiliki seseorang, ia tetap manusia biasa dan tidak akan pernah menjadi Allah (ayat 2, 3), karena kekuasaan manusia tidak pernah memberi hidup. Dialah yang memberi kita hidup dengan segala kemungkinan di dalamnya.
Maka ketika menghadapi masalah dan kesulitan, yang pertama-tama dan yang terutama harus kita lakukan ialah datang hanya kepada Tuhan. Jangan ragu, mintalah pertolongan-Nya. Dia mau mendengar dan memperhatikan permohonan kita. Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri.  Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.  TERPUJILAH TUHAN! 


Pdt. Cahyo

FIRMAN ITU NYATA DALAM HIDUPKU



Ulangan 30:11-20
Ada banyak orang yang tidak menyadari pentingnya hidup bersama Firman Tuhan. Jikapun harus membaca Alkitab, tidak sedikit orang yang hanya membacanya selintas saja tanpa direnungkan, dicerna dan dilakukan secara nyata. Padahal apa yang terkandung di dalam Firman Tuhan itu sungguh luar biasa. Ada kuasa Ilahi di sana yang akan mampu menghasilkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya (baca Ibrani 4:12). 
Seperti umat pilihan Allah, Israel hidup dalam pimpinan Tuhan melalui Musa. Umat Israel berada dibawah gembala yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Walaupun dipimpin atau digembalakan oleh hamba Tuhan yang top, diurapi Tuhan. Umat Israel masih mendukakan hati Tuhan. Hidup mereka dipenuhi dengan kenajisan, memberontak, persungutan. Berungkali jatuh dalam dosa, menyembah berhala dan sebagainya.
Oleh Kasih Karunia Tuhan. Tuhan tidak ingin umat kesayangannya jatuh dan hidup terus dalam dosa. Karena Tuhan mengasihi umat-Nya dengan kasih yang kekal. Tuhan berfirman agar mereka kembali hidup di jalan yang lurus yaitu jalan Tuhan Yesus. Melalui hamba-Nya Musa, mengingatkan kembali agar umat dan semua jemaat-Nya : pertama, Taat pada perintah Tuhan; kedua perkatakan Firman seperti Tuhan memperkatakan; ketiga, jadikanlah diri kita ilustrasi nyata dari Firman dan ajaran Kristus. Supaya Firman itu nyata dalam hidup umat Tuhan.
Dengan Taat dan memperkatakan Firman serta menjadikan hidup kita sebagai ilustrasi dari Firman dan ajaran Kristus. Saudara/i memilih kehidupan dan berkat. Sehingga bagi orang-orang yang melakukan Firman. Maka, Firman di Ulangan 30:9-10 berlaku untuk dia “…TUHAN, Allahmu, akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam segala pekerjaanmu, dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu, sebab TUHAN, Allahmu, akan bergirang kembali karena engkau dalam keberuntunganmu, seperti Ia bergirang karena nenek moyangmu dahulu. Apabila engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.” Firman menjadi nyata dalam hidup kita.
Sebagai umat percaya, mari kita terus hidup taat kepada Tuhan dan menumbuhkan Firman itu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan berbuat demikian saudara/i dipenuhi Damai Sejahtera dan Kasih Karunia Allah. Sehingga janji-janji Tuhan dalam Firman-Nya saudara/i akan meraih dan memperolehnya. Tuhan Yesus meberkati.

Salam Damai.
Sdr. Hudiman Waruwu

Rabu, 14 November 2012

BELAJAR HIKMAT DARI SATWA



Amsal 30:24-33
Kitab Amsal berisi kumpulan ucapan ringkas yang berupa nasihat-nasihat etis-praktis. Ungkapan nasihat yang disampaikan ada dalam bentuk kalimat yang lugas, atau langsung, namun juga ada yang disampaikan dalam bentuk perumpamaan dan pembandingan.
Perikop yang menjadi bacaan kita yaitu dari Amsal 30:24-33, merupakan bagian dari perkataan Agur bin Yake. Perkataan Agur ini merupakan ungkapan kepolosan dan kejujuran dari tipikal orang yang sederhana. Namun ia juga tipikal orang yang bekerja kers, berdisiplin, dan penuh perencanaan. Mampu merefleksikan hikmat Allah dengan pengamatan hal-hal sederhana dalam hidupny sehari-hari. Agur mengatakan bahwa manusia perlu belajar dari hikmat Allah melalui paling sedikit 4 binatang yang ada di sekitar kita.
1.    Bangsa semut.
Semut bangsa yang tidak kuat, namun menyediakan makanannya di musim panas. (Amsal 6:6-8).
2.    Pelanduk.
Pelanduk atau kancil oleh Agur disebut sebagai bangsa yang lemah namun mendirikan rumah di atas gunung batu untuk beroleh aman dan menjagai hidupnya. Ini jelas menggambarkan gabungan antara kecerdikan dan kerja keras.
3.    Belajar dari belalang.
Belalang tidak mempunyai raja namun berbaris teratur. Ini mengajarkan kepada kita akan sikap hidup yang mandiri.
4.    Belajar dari cicak.
Kita belajar akan kemampuan adaptasi atau penyesuaian diri dengan berbagai lingkup yang ada.
 
Dari contoh-contoh ini, kita bisa belajar tentang keteraturan, kecerdikan, kemandirian, fleksibilitas. Serta menyadarkan kita semua bahwa hidup berhikmat ternyata tidak identik dengan gelar studi dan tingkatan ilmu pengetahuan. Hikmat bersumber dari Firman Tuhan yang terjalani dalam hidup dengan murni dan konsekwen.
            Tuhan memberkati

Pdt. J. Budi Santoso

Selasa, 13 November 2012

ALLAH PEMELIHARA HIDUP ORANG PERCAYA



Kitab Esther 4:1-17
Allah tidak saja sebagai Sang Pencipta, tetapi Dia juga Sang pemelihara.  Allah memelihara alam semesta, termasuk bumi sampai sekarang ini.  Manusia-manusia yang serakah merusak bumi ini dengan cara mengekploitasinya secara sewenang-wenang – mengeruk isi bumi dengan alat-alat teknologi canggih, membabat hutan seenaknya sendiri, membuat polusi, membuang sampah dan limbah sembarangan akibatnya bencana alam – krisis ekologi terjadi di mana-mana.  Namun tidak demikian dengan Allah,  Dia mencipta dan Dia juga memelihara. Bumi diciptakan oleh-Nya dan sampai sekarang dipelihara-Nya.  Bumi diatur sedemikian rupa suhunya sehingga dapat dihuni.  Bahkan seluruh alam semesta dijaga dan diaturnya secara menakjubkan dan mempesona, seperti misalnya tata surya yang terorganisir sesuai orbitnya masing-masing.  Tentunya semuanya ini ada di alam semesta karena Allah yang menciptakannya dan juga  sampai sekarang tangan Allah yang perkasa masih memeliharanya terus.  Allah masih memberikan roh kehidupan untuk bumi ini dan kita masih dapat tinggal di dalamnya. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita bersyukur. 
Allah tidak saja memelihara  alam semesta dan bumi ini, tetapi Dia juga memelihara anak-anak-Nya, umat yang dikasihi-Nya tanpa henti.  Di dalam Kitab Esther ini diceritakan bahwa ada seorang kepercayaan Raja yang sangat jahat, (pembesar utama di atas pembesar-pembesar lainnya)Haman.  Gara-gara ada satu orang Yahudi(Mordekhai) yang tidak mau sujud dan menyembah saat Haman masuk gerbang istana raja, maka  Haman – pembesar ini panaslah hati.  Kemudian dia merancang untuk membunuh Mordekhai dan seluruh bangsa Yahudi yang ada di wilayah Persia.  Kejam dan sadis sekali orang ini, kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya tidak ditunjukkan melalui pelayanan dan belaskasihan tetapi malah kesewenang-wenangan, ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan yang culas, liar dan keji.
Tetapi Allah Israel adalah Allah yang tidak tertidur dan terlelap.  Ia menyelamatkan umat-Nya dengan cara yang ajaib.  Dia Allah Sang pemelihara yang memberi perlindungan untuk anak-anak-Nya. Ia sanggup melakukan hal-hal tertentu agar karya keselamatannya terjadi atas hidup kita. Mordekahi dan orang Yahudi lainnya diselamatkan oleh Allah dengan caranya yang ajaib.   Allah Alkitab adalah Allah pemelihara orang-orang yang menjadi milik-Nya. Amin.     

Pdt. Minggus Minarto Pranoto