Minggu, 27 Januari 2013

Moment Keadilan



Keluaran 15:1-18
Hidu rasa rasanya sekarang semakin berat dan sulit. Persoalan sepertinya antri membuntuti kita, Belum selesai masalah yang satu, masalah lain ada, seolah-olah hati dan pikiran kita menjadi gudang masalah. Rasanya setelah gaji naik membantu meringankan beban, ternyata tidak. Semakin besar gaji, semakin besar juga kebutuhan dan keperluan. Biaya hidup naik. Ada saja permasalahan yang muncul. Merasa dengan adanya mobil maka pekerjaan dan usaha semua beres. Warna-warni kehidupan semakin mempersulit kehidupan. Bangun di pagi hari permasalahan yang langsung terpikirkan.
Tidak salah bila kita memohon kekuatan dan pertolongan kepada Allah. Kita berseru, kita berdoa kepada Allah bahkan kita berteriak kepada Allah. Allah kita adalah Allah yang baik bagi semua orang. Ia memperhatikan dan paham akan pergumulan kita. Firman Allah mengatakan doa orang benar bila dengan yakin didoakan maka sangat besar kuasanya.
Nah, dalam pergumulan kita dan keluh kesah kita tidak sedikit juga mempertanyakan akan keadilan Allah. Di masa-masa penantian jawaban Allah, tidak jarang umat Allah melemparkan pertanyaan kepada hamba Allah (pendeta), sahabat, dsbnya. Masih ada Allah? Di mana keadilan Allah? Dan mungkin lebih banyak lagi melontarkan pertanyaan dan bertanya atas keadaan yang kita alami. Bertanya kenapa, ada apa, mengapa dan mengapa terjadi hal ini? Kita membandingkan diri dengan orang lain, melihat dan menilai apa yang telah kita lakukan kepada Allah dan akhirnya mengadili Allah. Di mana KEADILAN Allah?????
Saudara/I, bila ini yang ada dalam diri kita sampai sekarang ini, mempertanyakan keadilan Allah. Maka, kita sudah jatuh dalam dosa sungut-sungut. Siapakah kita, berani-beraninya menggugat Sang pencipta, mengatur Allah, memberikan timbangan kepada Dia tentang apa yang baik dan benar. Sadarkah kita ketika kita melontarkan kata-kata ini, kita sedang dikuasai oleh kedagingan atau keinginan kita, hal ini ini telah menjebak logika berpikir kita dan membenarkan apa yang kita mau?
Sdr/I, Firman Allah dalam Keluaran 15:1-18 menolong kita untuk memahami dan merefleksikan keadilan Allah. Dimanakah moment keadilan itu bisa kita mengerti dan tahu bahwa Allah adalah adil bagi hidup kita. Saudara/I  moment keadilan bagi umat Allah muncul saat umat Allah menghayati dan merefleksikan  kesulitan, pergumulan dan penderitaannya dengan penuh ucapan syukur dan mengingat kembali akan tindakan Allah yang telah dikerjakan Allah dalam sejarah hidup kita. Allah menjawab pergumulan Paulus dengan mengatakan cukuplah kasih karunia-Ku kepadamu. Dan dengan ini Paulus tahu bahwa dalam kelemahanlah kasih karunia Allah menjadi sempurna. Di saat-saat ini, moment keadilan Allah  dihayati dan direfleksikan. Kita tidak mungkin kuat dan mampu menjalani hidup ini tanpa keadilan Allah. Momentum keadilan Allah dalah hidup bisa kita tahu dan mengerti bila kita:
Pertama, look back and thank God (lihatlah ke belakang dan bersyukurlah kepada Allah), kedua, look forward and trust God (lihatlah ke depan dan percayailah Allah), ketiga, look within and finf God (lihatlah ke dalam dan temukan Allah), look around and serve God (lihatlah sekelilingmu dan layanilah Allah).
Moment keadilan Allah dalam hidup kita selalu ada dan nyata. Kita mampu hidup sampai sekarang hanya oleh kasih karunia Allah. Kita adalah manusia yang lemah dan terbatas, sering gundah, susah dan berpeluh dalam asa dan tak sabar melihat tangan Allah bekerja. Bila ini menerpa kita lihatlah keadilan Allah bahwa Allah adalah kekuatan dan mazmur kita, Allah sebagai pembimbing dan penyelamat kita. Walaupun saat ini kita seolah belum melihat-Nya bekerja. Ketahuialah akan Firman ini “buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum (Yesaya 42:3).”
Mari rayakan momentum keadilan Tuhan . Tahun 2013 sebagai tahun keadilan bagi Gereja-Gereja Kristen Muria Indonesia (GGKMI). Dengan tema ini kita menjalani tahun ini dengan merefleksikan dan menghayati karya Allah dalam kehidupan yang meresponi Firman, bahwa Allah kita adalah kasih dan umat-Nya adil. Amin

Salam Damai
Sdr. Hudiman Waruwu

BERKENAN DI HATI ALLAH



Bacaan : Kisah para rasul 13:16-23; 22
Tuhan menyebut Daud sebagai orang yang berkenan di hatiNya. Bila Tuhan menyebut seseorang sebagai yang berkenan di hatiNya tentunya itu bukan sebutan sembarangan sebab sangat jarang ada tokoh Alkitab yang disebut demikian. Bahkan Yesus Kristus sendiri juga disebut dengan julukan anak Daud. Mengapa Tuhan menyebut Daud sebagai orang yang berkenan di hatiNya? Bukankah Daud pernah melakukan dosa besar dalam ukuran manusia yaitu berzinah dengan istri orang lain dan juga membunuh suami wanita tersebut ?
Inilah beberapa kualitas istimewa  yang membuat Daud berkenan di hati Allah:
1.       Daud adalah orang yang setia. Saat masih remaja Daud diperintahkan oleh Ayahnya untuk menggembalakan kambing domba. Walaupun kambing domba yang digembalakan hanya dua tiga ekor saja, Daud tetap setia menjaganya. Bahkan Daud rela mengorbankan nyawanya dengan melawan singa dan beruang yang ingin memangsa kambing domba yang ia gembalakan. Tuhan memilih Daud menjadi raja Israel sebab bila untuk kambing domba yang dua tiga ekor saja Daud menjaga dengan sepenuh hati maka Daud pasti akan memimpin bangsa Israel dengan sepenuh hati.
2.       Daud selalu ingin menyenangkan Tuhan.  Walaupun Daud hidup di istana yang megah dan indah namun hati Daud gundah gulana sebab Tuhan yang ia sembah hanya tinggal di sebuah kemah. Banyak orang Kristen yang apabila sudah hidup enak dan berhasil melupakan Tuhan , tapi Daud tidak sebab hati Daud adalah hati yang ingin menyenangkan Tuhan.
3.       Daud berjiwa pengampun. Daud mengampuni Saul walaupun Saul mengejar-ngejar dan ingin membunuhnya. Bahkan Daud bersedih dan meratap ketika mendengar Saul telah meninggal. Daud juga mengampuni Absalom, anaknya sendiri yang telah menghianatinya dan ingin menjadi raja. Bila kita ingin menjadi orang yang berkenan kepada Allah maka kita harus memiliki hati yang mau mengampuni orang yang telah menyakiti hati kita.
4.       Daud menghormati otoritas. Selama bertahun-tahun Daud dikejar-kejar dan ingin dibunuh oleh Saul sebab ia irihati terhadap Daud. Beberapa kali Daud mempunyai kesempatan untuk membunuh Saul namun ia tidak melakukannya sebab ia tidak ingin menjamah orang yang diurapi oleh Tuhan. Daud menyadari bahwa melawan otoritas berarti melawan si pemberi otoritas. Daud menunggu dengan sabar sampai Tuhan sendiri yang mengambil otoritas dari diri Saul.
Daud rela ditegur dan mau bertobat. Meskipun dalam kelemahannya Daud sempat melakukan dosa perzinahan dan pembunuhan namun ia cepat bertobat saat Tuhan menegurnya lewat nabi Natan. Inilah yang membedakan antara Saul dengan Daud dimana ketika Saul ditegur oleh Samuel ketika Saul berbuat salah ia tidak mau bertobat. Sebagai manusia biasa kita tidak mungkin dapat luput dari kesalahan tetapi kita harus cepat bertobat dan berubah bila ditegur oleh Tuhan.

Pdt. Slamet Widodo

Natal Dan Pengorbanan Yesus



Kita telah memasuki Minggu kedua di month Desember, month Yang identik Artikel Baru month perayaan Natal. Ketika Natal PERTAMA Kali, Yesus turun-bahasa Dari Sorga Ke bumi. Suami adalah bentuk pengorbanan Yesus Yang Luar Biasa karena Ia Yang Tak Terbatas masuk Illustrasi tubuh manusia Yang Terbatas. Filipi 2:07 menyebutkan bahwa Yesus mengosongkan Diri-Nya. Bahasa Yunani Bahasa Dari kata "mengosongkan" Diri PADA ayat 7 adalah kenosis . "Kenosis" Sendiri memiliki arti, mengosongkan, meniadakan atau menganggap tidak berguna. Dalam, beberapa English Version seperti, Bishops 'Bible, Text English Mayoritas, Geneva Bible , Raja James Dan Masih banyak Lagi, dituliskan " M ade sendiri reputasi tidak. Terjemahan "Membuat Diri-Nya Sendiri tidak memiliki reputasi (Lagi) kategori" Dirasakan memiliki pengertian Yang lebih tepat. Baru membuat Diri-Nya Sendiri tidak memiliki reputasi, sungguh merupakan pengorbanan Yang Ulasan Sangat Besar dikerjakan Allah untuk manusia Yang hanya Debu inisial. Dimulai Artikel Baru ayat 6-7, Ia tidak mempertahankan Diri-Nya sebagai Allah malahan mengambil rupa manusia bahkan menjadi Hamba. Tidak berhenti sampai di Sini, Yesus adalah Hamba Yang menjalankan ketaatan Tanpa syarat Dan ketaatan-Nya dikerjakan sampai mati taat Tergantung di Atas kayu Salib, disalibkan oleh ciptaan-Nya Sendiri (ay 8-9). Karena pengorbanan Dan ketaatan-Nya menjalani "Kekosongan" Inilah Allah Ulasan Sangat meninggikan Yesus (ay 9). Dan suatu SAAT dimasa Yang Akan Datang, * Semua makhluk bahkan orangutan-orangutan Yang pernah menghina atau menyalibkan-Nya Akan bertekuk lutut Dan mengaku bahwa "Yesus adalah tuhan (ay 10-11)."
 Yesus telah melakukan pengorbanan Yang demikian Dahsyat, merendahkan Diri, membuat Diri-Nya Sendiri dipandang hina ( tidak ada reputasi ) Maka seharusnya kitd Illustrasi bergereja Bersama-sama memiliki Kesatuan Hati, Pikiran Kesatuan, Kesatuan Kasih, Kesatuan tujuan atau Visi Dan Misi (ay 2) . Bukan ITU Saja, kitapun secara Pribadi seharusnya memiliki Pikiran Dan perasaan Yang JUGA terdapat Dalam, Yesus Kristus yaitu "Membuat-Nya sendiri tidak ada reputasi" (ay 5-7). Kalau Hal inisial ADA Dalam, Gereja tuhan Maka tidak ADA Lagi konflik di ANTARA pemimpin atau majelis jemaat, tidak saling iri ADA, saling menuduh, MENCARI kepentingannya Sendiri, tidak ADA konflik Dalam, kepanitiaan, tidak ADA kepentingan Pribadi Yang dimajukan Dalam, Program Gereja, tetapi setiap Anak tuhan Akan saling bergandengan Tangan untuk mengedepankan Misi Allah BAGI Dunia, mencurahkan Hati untuk melayani majelis jemaat tuhan.
 
 
Salam Kasih,


Yotam Sugihyono

FIRMAN ITU PEMBAWA DAMAI BAGI CIPTAANNYA



Yes 9: 5, Yoh14:27

Yesus, sang Firman itu datang ke dunia bukan untuk melihat-lihat atau mengawasi mahluk ciptaaanNya. Sang Firman datang untuk membawa dan memberikan damai bagi semua yang diciptakanNya.
Mengapa I memberikan damai? Karena ciptaanNya membutuhkan damai. Manusia sekuat dan sekaya apapun tetap membutuhkan damai, karena tanpa damai manusia tidak dapat menikmati  kebahagiaan dan kebaikan yang Tuhan sediakan.
Damai : keharmonisan, keselarasan, keamanan dan keselamatan (harmony, security, safety). Damai adalah kebutuhan semua mahkluk ciptaan Tuhan. Sejak semula Tuhan Allah kita telah menyediakan damai itu bagi ciptaanNya. Karena itu Firman Tuhan mengatakan : semuanya sungguh amat baik.
Tapi sayang sekali , manusia merusak damai/harmoni yang Tuhan sediakan, dengan cara menolak kepemimpinan Tuhan Allah dalam hidup mereka. Pada saat manusia memutuskan hubungan dengan Allah, pada saat itulah manusia kehilangan damai, kehilangan keamanan, kehilangan keselamatan dan kehilangan keharmonisan dengan Allah, sesama dan semua ciptaan Allah.
Yesus, sang Firman itu, datang membawa damai supaya kita dan semua ciptaanNya dpt kembali memiliki damai di sini dan damai di sorga.


Amin.

Pdt Yeanny M. Soeryo

“ Firman Tuhan itu berkat bagi semua orang “


Rounded Rectangle: GKMI Kenari
30 Desember 2012
 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
2 Tim 3 :16-17
Pendahuluan
Menjadi orang yang diberkati adalah kerinduan setiap orang.  Sebagai orang tua cita – cita kita adalah melihat keturunan kita menjadi sukses, bahkan bukan hanya sukses secara duniawi tetapi juga secara rohani.  Siang malam kita rela berjerih lelah agar mampu mewujudkan mimpi itu di dalam rumah tangga kita.  Demikian juga dengan para orang muda, diberkati adalah mimpi setiap mereka.  Menjadi dewasa, berkarya, berjumpa dengan pasangan yang tepat ( bobot, bibit dan bebet ), berumah tangga  dan mewujudkan berkat yang melimpah atas kehidupan mereka bahkan kalau perlun melampaui generasi para pendahulu mereka. 
Ada pemahaman yang kurang lengkap.
Meski demikian ada hal yang biasanya tak terperhatikan dalam perwujudannya.  Mengapa demikian karena fokus hidup yang diberkati tersebut lebih mementingkan pada rumusan pengembangan material dan intelektual tanpa dibarengi dengan pertumbuhan yang cukup di dalam dimensi spiritual.  Manusia lupa bahwa dimensi kehidupan yang Tuhan berikan justru diawali hal spiritual ( Kej. 1 : 26 - 28 ) baru kemudian  mengarah kepada pengembangan materi dan intelektual.  Konsekuensi logis peletakan fondasi yang salah ternyata mempengaruhi tata kelola hidup yang Illahi menjadi materialistik, sikut – sikutan dan berpusat kepada pemujaan kesenangan pribadi.
Dengan demikian maka dalam struktur intelektual dan material manusia sebetulnya dipengaruhi oleh bangunan spiritual yang telah Allah ciptakan sedemikian rupa untuk mewujudkan tata kelola bumi yang Illahi.  Hal ini tentu kita mengerti bahwa hal tersebut terjadi ketika manusia lebih mengandalkan pada hidup yang berpusat pada “diri”  dan “materi”  tanpa memperhatikan unsur Illahi yang telah Tuhan tetapkan sehingga akibatnya kerusakan hidup umat manusia dan alam semesta menjadi begitu parah.
Firman Tuhan sebagai cara Tuhan mengarahkan umatNya
Kesulitan diatas dimengerti dengan baik oleh Tuhan, sejak jaman Perjanjian Lama berbagai upaya telah dikerjakan Tuhan dalam memastikan kehidupan umat Israel.  Silih berganti Para Nabi Tuhan berjuang untuk memastikan umat Israel di dalam lingkarang pemeliharaan Tuhan.  Ketaatan tersebut penting, karena ketaatan kepada Firman Tuhan mendatangkan “berkat” dan ketidak-taatan menghadirkan “kutuk”.
Tetapi rasa cinta Tuhan begitu besar, sehingga proses yang tadinya tertuju hanya kepada sebuah bangsa saja menjadi berubah bagi segala bangsa. Yohanes 3 : 16 - 17 menyatakan bahwa Tuhan memberikan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, kepada dunia supaya yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal, ay. 17 menarik, bahwa proses kehadiran Yesus ternyata bukan dalam pendekatan sebagai Hakim galak dan bengis melainkan sebagai Juru Selamat, Wow !!
 Yohanes  1 : 1 menyatakan bahwa Yesus adalah “Firman Allah yang hidup”, Dia menggenapi dan melengkapkan isi Taurat dan seluruh pengajaran Para Nabi untuk mendidik, mengajar, menjadikan manusia memiliki hidup yang lengkap baik secara jasmani maupun rohani.  Kehadiran Sang Firman yang hidup itu adalah untuk memastikan bahwa pikiran manusia yang tertuju pada cerdas cakap pikir, kuat gagah raga dan daya harta menjadi terarah pada panggilan yang lebih tinggi dan mulia.  Rasul Paulus menasehati Timotius murid terkasihnya : Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik ( 2 Timotius 2 : 16 – 17).
Penutup
Sudah ribuan tahun Yesus Kristus terangkat Surga menitipkan perjuangan ini kepada kita sekalian.  Sejauhmana kita meneruskan kabar baik Tuhan, yang sudah nyata menjadi berkat bagi semua orang terpancar dari kehidupan kita.  Jika masih belum, maka kiranya di penghujung tahun 2012 bagi kita untuk merancang dampak kita lebih dalam lagi.  Tuhan Yesus Memberkati.

AHLI WARIS JANJI ALLAH


(Rom. 8 : 17; 1 Kor. 1 : 20)
GKMI Kenari Minggu 27  Januari 2013


Dalam setiap pertemuan  dalam bentuk apapun pasti kita mulai dan kita akhiri dg kata  selamat, meski dalam bahasa yg berbeda tapi artinya selamat.  Itu berarti sadar atau tidak kebutuhan manusia yg utama & pertama adalah keadaan selamat. Masalahnya selamat macam. Pada umumnya kata selamat  diberi arti tidak ada halangan yg berarti dan sesuai dg keinginan kita Sukar bagi manusia untuk menerima situasi selamat kalau hal itu tidak sesuai dg yg  diharapkan. Padahal manusia bukan penguasa waktu & tidak tahu apa yg  akan terjadi selanjutnya. Melalui tema &  ayat yg kita bahas ini kita mau belajar makna selamat menurut Tuhan.
            Jauh sebelum manusia ada Allah telah menyediakan dunia lengkap dg segala kekayaannya  supaya manusia bersama & dlm kehadiran Tuhan manusia berada dlm situasi Firdausi. Aman saling membahagiakan dan saling menjadi berkat.  Itu berarti dunia dan segalanya isinya adalah milik Allah ,manusia dipercaya  dalam kehadiran Allah untuk memelihara menaklukkan &  menikmatinya. Bukan dalam rangka memilikinya. Tetapi begitu manusia jatuh dalam dosa bumi yang taman Eden itu berubah menjadi onak duri. Kesulitan dan penderitaan yang dialami manusia. Manusia kehilangan kehadiran Allah , mengkondisikan manusia haus dan lapar akan Allah. Rasa haus dan lapar akan Allah ini mengkondisikan manusia menggantinya dg  makanan & minuman. Pikirnya dg banyak makanan dan minuman manusia akan dipuaskan selamanya.  Itulah sebabnya timbul sifat srakahisasi manusia, mengumpulkan diri sendiri sebanyak banyaknya  untuk diri sendiri & tidak peduli dg sesamanya.  Bahkan merasa akan lebih selamat kalau bisa mengumpulkan lebih banyak. Padahal fakta membuktikan tidak seorangpun  yg dipuaskan dg makanan dan minuman bahkan walaupun dunia jadi miliknya sekalipun.
Itulah sebabnya  ada natal, supaya barangsiapa percaya kepadaNya (Kristus) diberi kuasa menjadi anak2 Allah, keluarga Allah. Tuhan Yesus sebagai anak sulung dan kita yg percaya jadi keluarga  Allah. Inilah selamat yg dimaksudkan Tuhan. Yaitu ketika kita menjadi keluarga Allah.. Sebab dunia milik Allah bahkan sorga milik Allah . Untuk apa itu semua bagi Allah?. Pasti akan diserahkan  pada keluargaNya. Kalau kita keluarga Allah, sedangkan dunia & sorga milik Allah apalagi yang kita takutkan.
Namun juga bukan berarti kita berubah menjadi bosNya Tuhan. Kalau kita tidak usah berusaha sudah menjadi ahli waris itu berarti ikut menjadi pemilik, maka kita tertuntut untuk ikut memelihara , mengusahakan , menguasai begitu rupa pasti dg segala usaha dan perjuangan supaya kehadiran kita diantara alam semesta diakui & diterima sebagai kehadiran Tuhan yg memberkati mengasihi  & memuliakan Allah. Menderita bagi &  bersama Dia artinya sebahasa dg  Tuhan Yesus yg mengatakan :” Makananku adalah melakukan kehendak Tuhan: Bukan melakukan kehendak agama Kristen. Tuhan tidak mencari & membuat orang beragama. Tetapi mencari orang yg taat &  menyenangkan Tuhan sebagai Bapa kita. .Karena kita memang bukan hanya anak, tetapi juga sahabat dan bahkan mempelai wanita .  Amin

Pdt. Em. David Sriyanto

PENGHARAPAN SEJATI



MAZMUR 146
Banyak kejadian buruk menghiasi halaman koran dan layar TV kita. Bencana alam terjadi di mana-mana, kekisruhan politik melanda begitu banyak tempat, atau penyakit yang semakin aneh-aneh wujudnya. Belum lagi masalah ekonomi dan pekerjaan yang semakin sulit didapat. Bila salah satu dari hal buruk itu menghimpit kita, apa kita bisa berkata seperti pemazmur, "Pujilah Tuhan, hai jiwaku" (1)? 
Bagaimana mungkin terus memuji Tuhan?  Hidup kita tidak selamanya senang.  Tidak selamanya sukses, tidak senantiasa badan kita sehat dan seterusnya.  Pemazmur menjawab, “benar, kalau anda hanya melihat kenyataan hidup ini, kalau anda hanya mengandalkan diri sendiri dan orang lain, memang demikian.  Tidak mungkin menjadi kenyataan, kita hidup terus memuji Tuhan.”  Namun kata pemazmur kita bisa terus memuji Tuhan, gembira dan bahagia, kalau kita hanya menggantungkan harapan kita hanya kepada Tuhan.  Maka dikatakan pemazmur bahwa Tuhan yang adalah Pencipta (5-6) dan Raja (10) memperhatikan orang-orang yang beriman kepada Dia, yaitu mereka yang mencari pertolongan-Nya. Tuhan, Sang Pencipta langit dan bumi, bukan hanya peduli pada hal-hal yang besar. Ia juga peduli pada orang-orang yang tertindas, kelaparan, terbelenggu, sakit, atau yang kesepian dan sendirian (7-9). Apakah Allah bisa diharapkan? Ya, Dia setia dan berkuasa (6)! Perbuatan penyelamatan Allah yang dikatakan pemazmur pada pasal ini adalah wujud kepedulian Allah terhadap mereka yang tertindas karena ketidakadilan, yang lemah seperti anak-anak yatim, janda-janda dan orang-orang asing.  Maka pemazmur mengawali dan mengakhiri mazmurnya dengan sebuah panggilan untuk memuji Tuhan (1-2, 10b).
Bagi kita, mazmur ini memberikan sebuah perspektif dalam melihat permasalahan. Bukan memandang seperti seekor katak dalam tempurung, tetapi dari ketinggian hingga bisa memandang lebih luas, seperti mata seekor burung yang sedang terbang. Melihat bukan dari sudut pandang terbatas, tetapi dengan pemahaman bahwa Allah berdaulat dan berbelas kasihan. Hanya Allah yang patut dipuji dan disembah selama-lamanya. Tidak ada suatu kuasa pun yang dapat menandingi Allah. Bahkan kekuasaan para bangsawan dan penguasa mana pun bukan tandingan. Bagi pemazmur, setinggi apa pun kedudukan dan kuasa yang dimiliki seseorang, ia tetap manusia biasa dan tidak akan pernah menjadi Allah (ayat 2, 3), karena kekuasaan manusia tidak pernah memberi hidup. Dialah yang memberi kita hidup dengan segala kemungkinan di dalamnya.
Maka ketika menghadapi masalah dan kesulitan, yang pertama-tama dan yang terutama harus kita lakukan ialah datang hanya kepada Tuhan. Jangan ragu, mintalah pertolongan-Nya. Dia mau mendengar dan memperhatikan permohonan kita. Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri.  Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.  TERPUJILAH TUHAN! 


Pdt. Cahyo

FIRMAN ITU NYATA DALAM HIDUPKU



Ulangan 30:11-20
Ada banyak orang yang tidak menyadari pentingnya hidup bersama Firman Tuhan. Jikapun harus membaca Alkitab, tidak sedikit orang yang hanya membacanya selintas saja tanpa direnungkan, dicerna dan dilakukan secara nyata. Padahal apa yang terkandung di dalam Firman Tuhan itu sungguh luar biasa. Ada kuasa Ilahi di sana yang akan mampu menghasilkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya (baca Ibrani 4:12). 
Seperti umat pilihan Allah, Israel hidup dalam pimpinan Tuhan melalui Musa. Umat Israel berada dibawah gembala yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Walaupun dipimpin atau digembalakan oleh hamba Tuhan yang top, diurapi Tuhan. Umat Israel masih mendukakan hati Tuhan. Hidup mereka dipenuhi dengan kenajisan, memberontak, persungutan. Berungkali jatuh dalam dosa, menyembah berhala dan sebagainya.
Oleh Kasih Karunia Tuhan. Tuhan tidak ingin umat kesayangannya jatuh dan hidup terus dalam dosa. Karena Tuhan mengasihi umat-Nya dengan kasih yang kekal. Tuhan berfirman agar mereka kembali hidup di jalan yang lurus yaitu jalan Tuhan Yesus. Melalui hamba-Nya Musa, mengingatkan kembali agar umat dan semua jemaat-Nya : pertama, Taat pada perintah Tuhan; kedua perkatakan Firman seperti Tuhan memperkatakan; ketiga, jadikanlah diri kita ilustrasi nyata dari Firman dan ajaran Kristus. Supaya Firman itu nyata dalam hidup umat Tuhan.
Dengan Taat dan memperkatakan Firman serta menjadikan hidup kita sebagai ilustrasi dari Firman dan ajaran Kristus. Saudara/i memilih kehidupan dan berkat. Sehingga bagi orang-orang yang melakukan Firman. Maka, Firman di Ulangan 30:9-10 berlaku untuk dia “…TUHAN, Allahmu, akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam segala pekerjaanmu, dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu, sebab TUHAN, Allahmu, akan bergirang kembali karena engkau dalam keberuntunganmu, seperti Ia bergirang karena nenek moyangmu dahulu. Apabila engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.” Firman menjadi nyata dalam hidup kita.
Sebagai umat percaya, mari kita terus hidup taat kepada Tuhan dan menumbuhkan Firman itu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan berbuat demikian saudara/i dipenuhi Damai Sejahtera dan Kasih Karunia Allah. Sehingga janji-janji Tuhan dalam Firman-Nya saudara/i akan meraih dan memperolehnya. Tuhan Yesus meberkati.

Salam Damai.
Sdr. Hudiman Waruwu

Rabu, 14 November 2012

BELAJAR HIKMAT DARI SATWA



Amsal 30:24-33
Kitab Amsal berisi kumpulan ucapan ringkas yang berupa nasihat-nasihat etis-praktis. Ungkapan nasihat yang disampaikan ada dalam bentuk kalimat yang lugas, atau langsung, namun juga ada yang disampaikan dalam bentuk perumpamaan dan pembandingan.
Perikop yang menjadi bacaan kita yaitu dari Amsal 30:24-33, merupakan bagian dari perkataan Agur bin Yake. Perkataan Agur ini merupakan ungkapan kepolosan dan kejujuran dari tipikal orang yang sederhana. Namun ia juga tipikal orang yang bekerja kers, berdisiplin, dan penuh perencanaan. Mampu merefleksikan hikmat Allah dengan pengamatan hal-hal sederhana dalam hidupny sehari-hari. Agur mengatakan bahwa manusia perlu belajar dari hikmat Allah melalui paling sedikit 4 binatang yang ada di sekitar kita.
1.    Bangsa semut.
Semut bangsa yang tidak kuat, namun menyediakan makanannya di musim panas. (Amsal 6:6-8).
2.    Pelanduk.
Pelanduk atau kancil oleh Agur disebut sebagai bangsa yang lemah namun mendirikan rumah di atas gunung batu untuk beroleh aman dan menjagai hidupnya. Ini jelas menggambarkan gabungan antara kecerdikan dan kerja keras.
3.    Belajar dari belalang.
Belalang tidak mempunyai raja namun berbaris teratur. Ini mengajarkan kepada kita akan sikap hidup yang mandiri.
4.    Belajar dari cicak.
Kita belajar akan kemampuan adaptasi atau penyesuaian diri dengan berbagai lingkup yang ada.
 
Dari contoh-contoh ini, kita bisa belajar tentang keteraturan, kecerdikan, kemandirian, fleksibilitas. Serta menyadarkan kita semua bahwa hidup berhikmat ternyata tidak identik dengan gelar studi dan tingkatan ilmu pengetahuan. Hikmat bersumber dari Firman Tuhan yang terjalani dalam hidup dengan murni dan konsekwen.
            Tuhan memberkati

Pdt. J. Budi Santoso

Selasa, 13 November 2012

ALLAH PEMELIHARA HIDUP ORANG PERCAYA



Kitab Esther 4:1-17
Allah tidak saja sebagai Sang Pencipta, tetapi Dia juga Sang pemelihara.  Allah memelihara alam semesta, termasuk bumi sampai sekarang ini.  Manusia-manusia yang serakah merusak bumi ini dengan cara mengekploitasinya secara sewenang-wenang – mengeruk isi bumi dengan alat-alat teknologi canggih, membabat hutan seenaknya sendiri, membuat polusi, membuang sampah dan limbah sembarangan akibatnya bencana alam – krisis ekologi terjadi di mana-mana.  Namun tidak demikian dengan Allah,  Dia mencipta dan Dia juga memelihara. Bumi diciptakan oleh-Nya dan sampai sekarang dipelihara-Nya.  Bumi diatur sedemikian rupa suhunya sehingga dapat dihuni.  Bahkan seluruh alam semesta dijaga dan diaturnya secara menakjubkan dan mempesona, seperti misalnya tata surya yang terorganisir sesuai orbitnya masing-masing.  Tentunya semuanya ini ada di alam semesta karena Allah yang menciptakannya dan juga  sampai sekarang tangan Allah yang perkasa masih memeliharanya terus.  Allah masih memberikan roh kehidupan untuk bumi ini dan kita masih dapat tinggal di dalamnya. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita bersyukur. 
Allah tidak saja memelihara  alam semesta dan bumi ini, tetapi Dia juga memelihara anak-anak-Nya, umat yang dikasihi-Nya tanpa henti.  Di dalam Kitab Esther ini diceritakan bahwa ada seorang kepercayaan Raja yang sangat jahat, (pembesar utama di atas pembesar-pembesar lainnya)Haman.  Gara-gara ada satu orang Yahudi(Mordekhai) yang tidak mau sujud dan menyembah saat Haman masuk gerbang istana raja, maka  Haman – pembesar ini panaslah hati.  Kemudian dia merancang untuk membunuh Mordekhai dan seluruh bangsa Yahudi yang ada di wilayah Persia.  Kejam dan sadis sekali orang ini, kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya tidak ditunjukkan melalui pelayanan dan belaskasihan tetapi malah kesewenang-wenangan, ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan yang culas, liar dan keji.
Tetapi Allah Israel adalah Allah yang tidak tertidur dan terlelap.  Ia menyelamatkan umat-Nya dengan cara yang ajaib.  Dia Allah Sang pemelihara yang memberi perlindungan untuk anak-anak-Nya. Ia sanggup melakukan hal-hal tertentu agar karya keselamatannya terjadi atas hidup kita. Mordekahi dan orang Yahudi lainnya diselamatkan oleh Allah dengan caranya yang ajaib.   Allah Alkitab adalah Allah pemelihara orang-orang yang menjadi milik-Nya. Amin.     

Pdt. Minggus Minarto Pranoto

MEMBANGUN MEZBAH DOA DALAM KELUARGA




Keluarga adalah sesuatu yang berharga bagi Allah. Ada beberapa contoh dalam Alkitab bahwa Allah menyelamatkan keluarga umat-Nya  dari pembinasaan orang-orang fasik yang Allah lakukan. Nuh beserta istri dan anak serta menantunya diselamatkan dari air bah, Lot beserta istri dan anaknya juga diselamatkan dari pemusnahan Sodom dan Gomora. Selain itu, Allah memberkati keluarga Abraham dan juga  keluarga Yakub. Kita juga memperoleh gambaran mengenai ibadah keluarga yang dilakukan oleh orang-orang beriman ini. Karena itu  ibadah keluarga merupakan aktivitas penting dan melalui ibadah keluarga, Tuhan berkenan mencurahkan berkat-Nya.

Apakah artinya mezbah keluarga ?  Bagaimana kita saat ini memahami dan menerapkan mezbah keluarga ini ?  Menurut arti kata-nya, mezbah adalah tempat korban dipersembahkan.  Mezbah Doa dalam keluarga berarti pusat dimana keluarga bersama berdoa. Doa artinya komunikasi dua arah dengan Sang Pencipta. Mezbah Doa  dalam keluarga berarti tempat kebersamaan keluarga untuk hidup berpusat dan dipimpin oleh Tuhan dalam segala aspek kehidupan. Mezbah pertama yang dicatat Alkitab adalah mezbah yang didirikan oleh Nuh (Kej.8:20; 9:1). Melalui mezbah inilah Nuh mempersembahkan korban yang merupakan suatu penyembahan kepada Tuhan. Yang menarik untuk kita perhatikan disini adalah mezbah ini didirikan oleh Nuh, tetapi sebagai respon atas perbuatan Nuh, Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya. Jadi mezbah yang didirikan Nuh bukanlah mezbah pribadi tetapi mezbah keluarga.

           
  1. Mezbah keluarga membuat hidup kita diarahkan kepada Tuhan.  Setiap hari, keluarga kita mempunyai waktu khusus buat Tuhan. Dengan  demikian hidup kita relatif terlindung dari dosa dan perpecahan keluarga.
  2. Mezbah keluarga membuat anggota keluarga diikat satu sama lain dalam kasih Kristus. Bila ada perselisihan, ibadah keluarga  mempercepat pemulihan suasana harmonis dalam rumah tangga.
  3. Mezbah keluarga membuat anggota keluarga bertumbuh secara rohani. Anak-anak akan mempunyai kenangan indah bagaimana mereka dibimbing oleh orangtua mereka dalam hal iman dan Firman Tuhan.
  4. Anak-anak dalam keluarga yang secara rutin menerapkan  mezbah keluarga akan lebih mudah diajar dan lebih peka terhadap  kebenaran. Mereka secara kritis akan bertanya mengenai arti rohani  dari pengalaman-pengalaman mereka. Dampaknya, kita pun memiliki  lebih banyak kesempatan untuk menjelaskan kebenaran dan memahami apa  yang mereka pikirkan.
  5. Persekutuan keluarga membuat seluruh anggota keluarga lebih kuat untuk menghadapi tekanan hidup. Ini dapat terjadi karena ketika kita bersekutu bersama, setiap anggota keluarga memiliki kesempatan untuk saling memperhatikan dan saling mendukung.

Mezbah  keluarga lebih mudah dilakukan bila kita dapat mengupayakan relasi keluarga yang harmonis. Orangtua yang takut akan Tuhan dan anak-anak yang dididik sejak usia sangat muda di dalam Tuhan merupakan modal penting dalam membangun suasana ibadah dalam  keluarga. Selamat berbakti melalui keluarga!

Pdt. Henoch Edi Haryanto

KEMBALI SAMBIL MEMULIAKAN ALLAH



Lukas 17 : 11 – 19
10 orang Kusta? Yang benar saja! Seperti serombongan besar belalang yang mengancam tanaman jagung di ladang. Ancaman bagi siapa saja yang bertemu dengan mereka. Ancaman sebisanya dihindari dan jangan sekali – kali dihadapi jika memang tidak yakin. Penolakan keluarga dan masyarakat terhadap keberadaan mereka, terkadang melebihi penderitaan fisik yang disebabkan oleh virus kusta tersebut.
Namun orang – orang kusta tersebut tak lekang berpengharapan akan hidup masa depan yang baik. Oleh sebab itu mereka bertindak pro aktif untuk meraihnya dengan resiko besar. Mereka akan ditolak dan dilempari batu oleh orang banyak. “  Yesus, Guru, kasihanilah kami!” seruan keras terakhir yang mampu mereka suarakan. Hanya demi memperoleh perhatian dan belas kasih Yesus. Sepertinya di tempat pengasingan mereka, berita mengenai Yesus tentu menjadi berita hangat. Yesus yang menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mengusir roh jahat, menjadi pematik harapan mereka. Dengan sisa keberanian mereka menyerukan permohonan kepada Yesus. Jawaban Yesus nyaris tidak dipahami.  Mereka butuh kesembuhan, bukan para imam. Namun mereka memilih taat dan  segera beranjak menemui para imam. Ditengah perjalanan mereka memperoleh kesembuhan.
Dari kesepuluh orang kusta tersebut kita belajar. Dan dari 1 orang kusta yang kembali, kita belajar lebih banyak dan yang paling diperkenan Yesus  yakni:
1. Muliakanlah Allah
2. Mengucap syukur
3. Memperoleh iman yang menyelamatkan
Amin. Tuhan memberkati

Pdm. Resnu Legowo

SALIB KELUARGAKU



( Lukas 9 : 23, 22 : 42 , Ibrani 5 : 9 )
Tuhan Yesus berkata kepada murid2 Nya : ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” ( Lukas 9 : 23 ). Salib siapakah yang perlu kita pikul ?  Salib Kristus ? Apa maksudnya ?
Kita perlu mengerti bahwa orang Kristen terpanggil untuk memikul salibnya sendiri setiap hari. Salib adalah lambang penderitaan, atau lebih tepat lagi, lambang penderitaan sebagai pengorbanan.
Setiap anggota keluarga mempunyai salib. Yang menjadi masalah bukanlah mengapa salibku demikian berat, sedangkan  sesamaku hidup begitu bahagia atau salib saudaraku demikian ringan . Tetapi bagaimanakah sikap kita menghadapi salib kita masing-masing.
Seorang pakar Psikologi Perkembangan Erik Erikson mengatakan bahwa salah sastu cirri kedewasaan adalah sifat generativitas, yang dimaksud bukanlah berproduksi atau berkembang biak secara biologis, melainkan mengembangkan mutu ;hidup bati generasi selanjutnya.  Tokoh- tokoh seperti Rasul Paulus, Nabi Yeremia, Pascal, Florence Nightingale, Erasmus, ibu Theresa, dsb adalah orang yang dapat mewariskan dan menyalurkan kecakapan, pengetahuan dan nilai-nilai hidup kepada generasi selanjutnya. Mereka hidup sendiri tetapi mereka tidak hidup untuk diri sendiri, melainkan untuk kalangan luas.
Setiap orang tua ingin mencintai dan mendidik anaknya. Mendidik artinya mengantar naradidik keluar atau melepas anak keluar. Dalam kenyataannya  banyak orang tua jusgtru bukan melepas anaknya keluar, melainkan menahan anaknya di dalam kungkungan pengaruh dan kekuasaan orang tua dalam perbagai bidang hidup. Godaan terbesar bagi orangtua adalah menjadi posesif ( bersikap memeiliki) dan protektif ( bersikap melindungi ) secara berlebihan terhadap anak.
Marilah kita meneladani Tuhan Yesus dalam memikul salib yang menjadi bagian kita yaitu penderitaan dan persoalan  yang merupakan bagian  dari hidup kita sehari-hari. Tuhan Yesus menerima penderitaan secara aktif,  yaitu memanfaatkan penderitaan sebagai pelajaran untuk menumbuhkan atau mendewasakan ketaatanNya kepada Bapa di sorga ( Ibrani 5 : 8 ).
Tuhan Yesus menjadi sumber acuan dan nilai hidup Kristiani, yaitu membawa damai, murah hati, rasa tanggung jawab, komitmen, menghargai waktu, kerja keras, adil, peduli, jujur, rendah hati , dan semua perbuatan baik. Anak-anak perlu mendapat nasihat, wejangan, pengarahan dan teladan nyata.
 ( Ev. Oeke Wudiyono, S. Th.)

JALAN LURUS JALAN TUHAN YESUS



Pembacaan: Amsal 3: 1-6
Pendahuluan:

Keadaan Negara yang sangat memrihatinkn. Kalau dilihat dari analysis Thomas Lickona sepuluh tanda kehancuran sebuah bangsa semuanya sudah terekm di Indonesia. Korupsi, ketidak jujuran dan orang beragama hanya ritusnya saja, bukan intinya menjadi orang beragama. Tidak ada suatu perubahan hidup. Tidak ada yang disebut transformasi, atau hidup baru.

I.                   Mengikuti Ajaran Tuhan
Ayat 1,2 mengajak kita sekalian untuk mengikuti jalan Tuhan, seperti Yoshua ketika dia dipanggil untuk menggantikan Musa memebawa umat Israel memasuki tanah Kanaan. Tiak boleh menoleh ke kiri atau ke kanan. Terus ikut jalan Tuhan, Pasti dia akan berumur panjang. Yang dimaksud dengan umur panjang bukan tidak mati mati, tetapi hidup yang berguna bagi orang lain. Hidup yang bertujuan tidak asal hidup seperti hewan.

II.                Piranti Hidup Bermakna
Ayat 3, 4 menyebutkan dua hal penting sebagai piranti hidup bermakna, yaitu Kasih dan Kesetiaan. Kasih memang segala-galanya. KedatanganNya ke dunia memang karena Kasih yang melebihi segala keadilan dan yang lain. Bela rasa yang sangat tinggi itu dinyatakan dalam AnakNya yang Tunggal Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita, manusia dari dosa kita. Yohanes 3: 16. Kemudian kesetiaan adalah unsur yang tidak bisa ditinggalkan. Karena dia adalah salah satu rasa buah Roh dalam Galatia 5: 23, dan merupakan suatu tanda dari keluarga yang harmonis.

III.             Tidak Bergantung Pada Kekuatan Diri Sendiri
Ayat 5 Amsal menyebutkan supaya kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri, Tuhan maha kuasa, Dialah sumber kekuatan kita. Kadang Tuhan menggunakan manusia lain untuk menyalurkan kuasaNya. Percayalah Dia akan menyelamatkan kita. Kita bisa tahu betapa terbatasnya manusia ketika kena stroke, tidak berdaya sama sekali. Tanda tangan saja tidak mampu. Betapa perlunya tiap hari mengucap syukur, Tuhan masih memberi kemampuan kepada kita tiap hari.

IV.             Kristen Di manapun Berada
Dalam ayat 6 Amsal ingin mengatakan bahwa orang yang beragama itu tidak cukup kalau hanya menjalankan ritusnya saja, kalau mau Tuhan meluruskan jalan kita, kita harus melakukan dalam hidup sehari-hari ajaran dari agama yang kita peluk. Di manapun berada kita selalu menyatakan ajaran itu, sehingga orang lain tahu bahwa kita adalah milik Kristus.

Pdt. Em. Mesach K.

Jumat, 21 September 2012

Semua makhluk Hidup Berdampingan dengan Harmoni



Lukas 4:18-19

Pdt. Paulus Hartono

Kata Yesus “Berbahagialah orang yang membawa damai” mat 5:9. Yesus tidak mengatakan yang mencintai damai tetapi membawa. Karena hampir semua orang pada dasarnya mencintai kedamaian tetapi sedikit yang mau mengusahakan perdamaian. Hal inilah yang membuat mengapa pada dasarnya kita merasa tidak enak ketika ada konflik dengan yang lain, bahkan dengan anak dan istri, keluarga. Atau konflik dengan lingkungan dengan merusaknya. Tetapi seringkali hati nurani tertindas oleh berbagai kepentingan yang membuat manusia dikalahkan dengan segala bentuk keserakahan.
Dalam bagian kata-kata Yesus ini kita diingatkan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk mengusahakan perdamaian minimal dengan diri sendiri. Damai itu tidak datang begitu saja perlu adanya respons dari menusia untuk ambil bagian dalam menghadirkan kedamaian.
Yesus mengingatkan pada kita betapa pentingnya hidup berdamai dengan semua orang termasuk pada semua makhluk karena perdamaian adalah tema sentral dalam Alkitab baik di PL maupun PB setelah tema keselamatan dan pengampunan.
Dibagian Injil yang lain Luk 4:18-19. Perdamaian adalah tahun rahmad Tuhan yang telah datang dan tergenapi dalam kehadiran Yesus. Kedamaian pada semua makhluk yang mengalami ketertindasan karena ketidakadilan, kemiskinan, sakit penyakit akan dibebaskan dengan dua hal yang penting yaitu:
Kehadiran Roh Allah secara nyata dalam kehidupan manusia. Roh Allah akan membimbing manusia untuk dapat berdamai dan menemukan perdamaian pada sesama dan alam sekitarnya. Roh Allah akan membuat manusia merasa tidak nyaman jika melakukan tindakan yang menyakitkan atau menindas sesamanya bahkan merusak alam sekitarnya.
Hal yang kedua adalah keadilan. Sikap adil yang bersumber pada kebenaran Kristus akan menolong manusia untuk dapat bersikap dan bertindak adil. Dalam tema perdamaian yang dikumandangkan nabi Yesaya adalah tema keadilan. Dalam ketertindasan manusia terenggut kedamaiannya. Terkait dengan hal ini Alkitab mengingatkan pada kita untuk tidak melakukan kesewenang-wenangan terhadap siapapun karena Allah sangat mengasihi dan akan hadir dalam ketertindasan. Allah akan membela mereka yang ditindas sesamanya dan akan memberi hukuman pada yang melakukannya. Amin. 

PERIKSALAH KEHIDUPAN ROHANI ANDA


 (Mat. 28: 18-20/Mark.16:15)
GKMI  Kenari :23/9/2012

Bagaimana seandainya ada lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses pendidikan & Pengajarannya  dimulai dari Play Group,TK, SD, SMP,SMA dan Perguruan Tinggi (S1,S2, S3) tanpa tes, tanpa ulangan & tanpa ujian  langsung lulus S3 ? Apakah anda akan memasukkan  anak2 anda untuk belajar kesana ?. Dan kalau ada , apakah kita akan mengakui kwalitas kesarjanaan yang diberikannya ?.  Saya yakin tidakkan?. Bukankah kwalitas kecerdasan seseorang sangat ditentukan oleh hasil tes, ulangan & ujiannya? Tapi aneh dg orang Kristen. Berapapun  lamanya  kita menjadi orang Kristen tidak ada tes/ujian yg kta pakai untuk mengevaluasi/mengukur kwalitas pertumbuhan & kemajuan iman kita. Jadi kalau ada lembaga pendidikan(pemuridan) tanpa ujian & tes itulah Gereja .
Padahal  sejak awal Tuhan memerintahkan kepada para muridNya & siapapun yg menjadi murid Kristus. FirmanNya ”pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu”. .Artinya gereja adalah gereja/orang Kristen adalah orang kristen kalau ia berada dalam kegiatan pemuridan.(cf. Markus 16:15)
Mari kita periksa kehidupan pertumbuhan Rohani kita sampai hari ini. Seharusnya memang banyak tetapi ijinkan saya mengambil dari 3 hal dulu aja .
1.      Kita mulai dari kegiatan dasarnya dulu yaitu meliputi :
a. Kegiatan doa,(sebagai nafas iman)
b. Saat teduh waktu khusus sebagai sarana ungkapan privesi kita dengan Tuhan
c. Belajar Alkitab secara rutin sebagai makanan rohani.Artinya perlu ada keseimbangan antara
    makanan jasmani dan rohani
d. Kesungguhan bersekutu karena kita adalah tubuh Kristus.
e. Bersaksi kepada dunia sebagaimana kehrmatan yg Tuhan berikan kepada kita sebagai garam & terang dunia. Kalau 5 hal ini tidak atau kurang kita miliki tidak ada bukti bahwa iman kita masih hidup.
2.      Pertumbuhan  Partisipasi dan kontribusi kita kepada Gereja (tubuh Kristus) .
Setiap orang Kristen pasti diberi talenta oleh Tuhan supaya kita punya makna yang jelas sabagai anggota tubuh Kristus . Sebab pada saatnya Tuhan mohon pertanggungan jawab untuk menentukan kita pasti masuk Sorga/neraka ( Mat. 25: 14 -30)
3.      Karakter Kristen (Filp.4: 8 – 9)
Sudah sejauh mana  akomulasi dalam pelbagai ungkapan kehidupan yang telah dan terus menerus kita perjuangkan dalam hidup kita yang membuktikan bahwa kita lni betul2 ciptaan baru. (2 Kor. 5 : 17)
Pengalaman membuktikan kalau 3 hal ini kita hidupi penyertaan Tuhan adalah fakta & pengalaman sesehari dan setiap saat.
Tuhan memberkati.

Pdt. Em. David Sriyanto

Rabu, 15 Agustus 2012

Beragama dengan Welas Asih dan Tulus Hati


Matius 5:7-8

Pdt. Rudiyanto, MTh


Agama itu berwatak ambivalen, mendua. Begitu kata para pengamat agama. Betapa tidak! Di satu sisi agama mengilhami banyak orang untuk melakukan karya-karya luhur kemanusiaan. Tentu kita tidak asing mendengar nama Mahatma Gandhi dan Bunda Theresa.

Tapi di sisi lain agama juga mendorong orang untuk melakukan percederaan terhadap kemanusiaan. Karena agama, orang memandang pihak yang berbeda keyakinan dengannya sebagai kafir – dan karena itu layak dilenyapkan dari muka bumi. Demi agama orang berperang. Demi agama orang menghadirkan terror dalam hidup sesamanya. Tak heran bila cendekiawan Lloyd Steffen mengatakan bahwa agama bisa menjadi kekuatan pro-kehidupan, tapi bisa juga menjadi kekuatan anti-kehidupan.

Lantas keberagamaan macam apakah yang semestinya dihayati para pengikut Yesus Kristus? Tuhan kita pernah meringkaskan orientasi keagamaan yang sejati: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Dengan menegaskan itu, Tuhan kita sedang menantang kecenderungan banyak orang untuk meninggikan Allah sedemikian rupa namun pada saat yang sama mengabaikan bahkan meremehkan kemanusiaan. Dengan tepat Alm. Rama Mangunwijaya membahasakan orientasi sejati itu dengan “memuliakan Allah, mengangkat sesama – khususnya yang lemah, miskin, dan tertindas.

Dalam Matius 5.7-8, Tuhan Yesus mengemukakan jiwa yang menghidupi orientasi beragama yang sejati itu. Dia berkata-kata tentang “orang yang murah hati.” Yang dimaksud adalah orang yang welas asih, yang, pertama, mampu turut merasakan penderitaan orang lain dan karena itu berbuat sesuatu untuk menolongnya. Kedua, orang yang welas asih juga mampu mengampuni orang lain, bahkan membalas kejahatan orang lain dengan kebaikan.

Tuhan Yesus juga berkata-kata tentang “orang yang suci hatinya.” Suci hati sangat berbeda dengan sekadar suci secara lahiriah. Di tengah kegandrungan para fanatikus agama pada hal-hal lahiriah semata, Tuhan Yesus mengajak orang untuk beragama secara otentik. Asli. Itu berarti beragama dari hati. Beragama yang menyadari bahwa seseorang senantiasa berada di hadapan Allah. Beragama yang tulus, jujur. Beragama dengan motivasi dan orientasi yang benar di hadapan Allah.

Di tengah kancah kemajemukan di satu sisi dan sekularisme di sisi lain, kita diajak untuk menghayati keberagamaan kita dengan jiwa welas asih dan ketulusan hati. Terpujilah Allah! (RA_Ags12) *** 

Jumat, 20 Juli 2012

Masa Depan Gereja.



Matius 24:4-22.
Apakah hari esok akan lebih baik? Dari pada kita berspekulasi, marilah kita melihat bagaimana Tuhan, Kepala gereja telah menubuatkan! “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!” Peringatan tadi disebabkan karena “Banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” (Matius 24:4). “Kamu akan diserahkan supaya disiksa dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” (ayat 9-12).
Betapa susah dan beratnya bagi para murid Tuhan ketika suasana tadi terjadi! Dikuatkan oleh Yohanes dalam buku terakhir dalam Alkitab, “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat, barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan didrinya!” (Wahyu 22:11). “Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi. Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat, akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.” (ayat 21,22).
Bersama-sama dengan semua murid Tuhan, kita diminta untuk “mempersingkat”  saat yang sangat sukar tadi karena apabila tidak, “Sekiranya mungkin - Mesias-mesias dan nabi-nabi palsu – (akan) menyesatkan orang-orang pilihan juga.” (ayat 24). Caranya? Injil Kerajaan harus diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa! (ayat 14).  Disadari atau tidak, Amanat Agung tetap sangat penting bagi semua gereja! Sa-yangnya apa yang kita anggap sudah kita ketahui dengan baik tadi seringkali tidak kita lakukan. Kalau toh kita melakukannya acapkali dengan cara yang keliru!
Sejak awal, Tuhan kita mengutus para murid untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Sayangnya, alih-alih menjadi saksi, kita malah menjadi pendakwa, penuntut (jaksa), hakim dan sekaligus algojomya! Dalam sebuah buku yang berjudul UN-Christian, kita sepatutnya digelisahkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga riset terkenal (George Barna group).Kita tahu bahwa tidak sebarang orang boleh diminta menjadi saksi! Yang penting, sebagai saksi orang harus tahu benar apa yang dia harus saksikan! Dan Alkitab mengajarkan bahwa kesaksian kita akan diteguhkan di hadapan dua orang saksi! Tetapi Alktab juga mencatat bahwa ketika Maria Magdalena dan teman-temannya bersaksi tentang Yesus yang sudah bangkit, murid-murid yang lain pun masih tidak percaya. Itulah sebabnya Kleopas disertai temannya pulang kampung! Bukan hanya itu. Tomas, walau mendengar kesaksian murid-murid yang lain, masih tidak mau percaya sebelum untutannya dia buktikan! Kalau demikian, apakah upaya untuk mempersingkat waktu kesusahan, penderitaan dan aniaya tadi akan menjadikan kesaksian kita lebih mudah?
Kalau Tuhan Yesus sendiri telah menyatakan bahwa kesusahan yang akan dan pasti terjadi nantinya akan menjadi begitu dahsyatnya sehingga belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi itu tiba, apakah kita akan sanggup menghadapinya? Ingat “Segala yang hidup tidak akan ada yang selamat!”  Sebagai gereja pewaris keyakinan gerakan Anabaptis, kalau kita bandingkan dengan apa yang telah dialami oleh para pendiri gerakan tadi dan telah mereka bayar secara mahal, akan mampukan kita? Lalu bagaimana kita akan menjawab apa yang digariskan oleh Tuhan kita? “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”
Kita perlu diingatkan, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Dan dari firman Tuhan jugalah kita tahu: “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah…Akulah pokok anggur dan kamulah rantng-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di alam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkannya ke dalam api lalu dibakarDalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yohanes 8:31,32; 15:2,5-8).  (CC).
Doa: Ya Bapa, ampuni hamba-Mu yang mudah tergiur mendengar suara orang  asing dan malah mau mengikutinya sehingga hamba-Mu menjadi sesat. Ajar hamba-Mu mendengar hanya suara Gembala yang benar dan menolak untuk mengikuti suara yang lain. Ya Bapa, hamba meminta agar kehidupan iman hamba-Mu mengakar di dalam Kristus secara semakin dalam dan dibangun di atas Kristus sehingga hamba tetap dipelihara dalam anugerah-Mu yang menyelamatkan! Mampukan hamba-Mu menjadi saksi-Mu di tengah-tengah masyarakat yang sangat majemuk! Terima kasih ya Roh Kudus,dan terima kasih untuk firman Tuhan dan gereja-Nya. Amin.

oleh: Pdt. Charles Christano

BERJALAN DALAM MISTERI ILLAHI



(Kejadian 12:1-3)

”Lihatlah ke dalam Alkitab,
hati manusia yang mendengarkan dan merespon
menjadikan Allah yang transenden (jauh) akan menjadi imanen (dekat).”
(Bapa gereja Benediktus, abad IV)

Hati manusia menjadi tempat ’persemaian’ dimana benih yaitu sikap mendengarkan tidak hanya sampai pada tataran telinga melainkan perlu hingga tataran hati. Abraham sebagai ”Bapa Orang Beriman” memberikan teladan bagaimana berjalan dalam misteri Illahi:
  1. Tuhan menjadi penyapa (ayat 1).
Tuhan menempatkan diriNya sebagai inisiator yang terlebih dahulu menyapa, namun hal ini tidak pernah ada artinya tanpa kesediaan mendengarkan dan merespon dengan setia. Mendengarkan sapaan bukanlah perkara yang mudah karena membutuhkan kesetiaan dan untuk berani mempertahankan dengan setia karena adanya keyakinan akan nilai (value).
  1. Berani keluar dari zona nyaman (ayat 2).
Ur-Kasdim pada konteks sejarah dunia kuno merupakan daerah yang mapan secara sosial dan ekonomi karena menjadi pusat pertanian, perindustrian, perdagangan dan budaya. Abraham dipanggil untuk keluar dari zona nyamannya. Zona nyaman menolong bagi pertumbuhan namun tak jarang membuat seseorang mengalami kemandegan. Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita tidak hanya diundang untuk percaya padaNya tapi mempercayakan padaNya.
  1. Berbagi kehidupan (ayat 3).  
Sapaan Tuhan yang penuh dengan rahasia (misteri) tidak hanya menjadikan kehidupan ini sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan anugerah yang harus diterima dengan tangan terbuka dan dibagikan. Untuk dapat menjadi berkat, bukan berapa banyak harta yang kita miliki namun berapa kemurahan hati yang sanggup kita berikan.
Hidup beriman tidak selalu berarti segalanya dapat dipastikan namun justru menuntut sebuah keberanian menapaki jalan kehidupan yang mungkin belum jelas dan bahkan memang tidak perlu jelas diawal. Keberanian membiarkan direngkuh Tuhan memampukan seseorang untuk melangkah.
Selamat melanjutkan perjalanan hidup dipertengahan tahun 2012 ini dalam misteri Illahi.



Pdt. Stefanus Christian Haryono, MACF
(Pendeta Tugas Khusus GKMI Pati di Fakultas Theologia UKDW, Yogyakarta)  

Sabtu, 16 Juni 2012

MEMANDANG SEPERTI YESUS


Teks : Matius 9:18, 23-25
Satu lagi mujizat besar dan spektakuler yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus dengan membangkitkan anak perempuan yang telah meninggal. Dalam mujizat kali ini, Tuhan Yesus tidak hanya membangkitkan anak perempuan yang meninggal, tetapi melalui ini, Tuhan Yesus juga sedang mengajarkan kepada setiap orang percaya tentang kekuatan menghadapi masalah.
Kematian anak perempuan bagi seorang ayah adalah masalah yang sangat serius bahkan bisa dikategorikan sebagai beban yang paling berat untuk ditanggung.  Tetapi kepala rumah ibadat di Yerusalem ini mampu menghadapinya karena ia datang kepada alamat yang tepat untuk minta pertolongan, sekalipun Tuhan Yesus tidak banyak melakukan mujizat di kotanya sendiri karena orang-orang disana tidak percaya kepada Yesus. Tetapi kepala rumah ibadat ini tetap percaya dan datang kepada Yesus untuk minta pertolongan.
Melalui mujizat ini Yesus sedang mengajarkan cara memandang masalah tidak lebih besar dari Allah kita. “anak ini tidak mati, tetapi tidur” (ay 24). Mati dan tidur jelas kondisi yang berbeda, dan Tuhan Yesus tahu persis bahwa anak perempuan ini sudah mati. Disinilah cara pandang Yesus yang harus kita teladani, Yesus melihat Kuasa Allah jauh lebih besar dari Kematian sekalipun, sehingga tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan di dalam kasih Tuhan.
Sering kita merasa masalah kita sangat besar dan berat. Kemungkinan karena kita terlalu terfokus kepada masalah itu sendiri sehingga semakin lama terlihat semakin besar. Jangan katakan kepada Tuhan betapa besarnya masalahmu, tetapi katakana kepada masalah, engkau punya Tuhan yang Maha Besar.
Salam
Muria